Aktivitas pengelolaan data survei seismik laut dengan nodal.

Indramayu, Petrominer – PT Pertamina EP telah menyelesaikan survey seismic 3D X-Ray Marine Nodal di area operasi offshore Asset 3 Pertamina EP di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kegiatan yang berlangsung efektif dan tepat waktu ini dalam rangka menemukan cadangan migas untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Ini merupakan hasil kolaborasi apik antara Pertamina EP dan PT Elnusa Tbk. Kegiatan survey seismic 3D Marine Nodal tersebut berlangsung pada 1 Juli – 11 Agustus 2020. Metode seismik 3D Nodal ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan oleh anak usaha PT Pertamina (Persero) ini.

Direktur Utama Pertamina EP, Eko Agus Sarjono, sangat mengapresiasi keberhasilan dan sinergi yang baik antara Pertamina EP dan Elnusa dalam pelaksanaan survey seismic 3D tersebut. Hal ini membuktikan kemampuan Tim Pertamina EP dalam mengelola kegiatan operasional di onshore maupun offshore.

“Data hasil survey seismic 3D ini diharapkan dapat segera ditindaklanjuti dan dioptimalkan oleh team GGR (Geology, Geofisika dan Reservoir Engineer) Asset 3 dan kantor pusat Pertamina EP, sehingga dapat segera berkontribusi positip pada penambahan cadangan dan peningkatan produksi Area X-Ray Asset 3 Pertamina EP,” ujar Eko, Kamis (27/8).

VP Exploration Planning & Operation Pertamina EP, Novy Hendri, menjelaskan bahwa pelaksanaan survey seismik 3D lapangan X-Ray cukup kompleks karena melibatkan banyak instrument. Diantaranya 1 kapal source, 2 kapal Node Handling Vessel, 2 Acousting pinging vessel, 1 Chase boat, 1 Logistic boat, dan 2 sea truck sebagai kapal pendukung.

Tahap persiapan survey dilakukan selama tiga bulan dengan koordinasi dan komunikasi yang intensif secara daring antara Pertamina EP dan Elnusa.

“Ini kolaborasi yang luar biasa, dilakukan 100 persen oleh anak bangsa yang semuanya bekerja selama 24 jam. Saya sangat mengapresiasi komitmen semua fungsi yang terlibat dalam proyek ini,” ujar Novy.

Keberhasilan dan sinergi yang baik antara Pertamina EP dan Elnusa dalam pelaksanaan survey seismic 3D tersebut mendapat apresiasi dari Direktur Utama Pertamina EP.

Survey tersebut menggunakan empat komponen utama yaitu Hydrophone dan Geopon X,Y,Z sehingga dapat memberikan gambaran bawah permukaan yang terintegrasi. Dengan hasil gambaran yang lebih tajam memudahkan melakukan evaluasi prospek serta pengembangan lapangan ke depannya. Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan tambahan cadangan migas sebesar 180 MMSTB.

Metode Seismik 3D Nodal meliputi deployment Nodal, shooting, pick-up Nodal, download dan verifikasi data. Hasil survey dapat meningkatkan kualitas data bawah permukaan sehingga dalam penentuan titik bor di struktur eksisting maupun step out inter structure lebih akurat. Tidak hanya itu, data seismik tersebut juga dapat membantu memetakan sebaran reservoir batu pasir Formasi Talangakar, lalu reservoir carbonate di Formasi Baturaja serta dapat memvalidasi potensi di Formasi Cibulakan.

Kegiatan survey ini mencatatkan lebih dari 90.000 jam kerja selamat, 0 LTI (Lost Time Injury) dan 0 kasus Covid-19, serta volume permukaan 302 km2 yang melingkupi 182 km2 full fold area. Kegiatan ini diselesaikan dalam jangka waktu 42 hari operasi.

Selama pelaksanaan, jelas Novy, tim berhasil mengatasi berbagai hambatan dan kesulitan yang ada. Di antaranya harus menjaga keamanan dan keselamatan operasional empat platform utama X Ray, yaitu Xma, Xa-Xd, dan Xb, mooring buoy, gas turbin Xa process, ditambah terdapat jaringan pipa bawah permukaan yang berusia lebih dari 40 tahun.

Menurutnya, persiapan yang baik, mulai dari tahapan pre-mobilisasi menjadi kunci sukses dalam membuat strategi operasi yang sistematis dan mengedepankan aspek keselamatan. Sehingga hasil survey yang didapat optimal serta diselesaikan tepat waktu.

Hal senada disampaikan Asset 3 General Manager Pertamina EP, Wisnu Hindadari.

Menurut Wisnu, tantangan terberat diantaranya cuaca buruk di laut jawa, adanya perbaikan jalur pipa bawah laut MOL XAP-BLG, adanya platform yang memiliki gas turbin yang sangat sensitif terhadap getaran, serta kondisi pipa bawah laut yang sudah cukup berumur. Namun semua tantangan terselesaikan melalui kolaborasi dan koordinasi Tim Seismik dengan Tim Platform X-Ray.

“Kuncinya komunikasi dua arah sehingga kolaborasi yang baik ini berjalan, dalam arti semua program kerja Tim Seismik dengan Tim Platform X-Ray selesai tepat waktu dan aman,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here