Fasilitas pengolahan gas yang dioperasikan oleh Saka Energi di Gresik, Jawa Timur. (SKK Migas)

Jakarta, Petrominer – Indonesian Petroleum Association (IPA) menyatakan perlunya komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan, baik dalam maupun luar sektor energi, untuk bisa mencapai target produksi sebesar 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar kaki kubik gas bumi per hari (BCFPD) pada tahun 2030.

Menurut Presiden IPA, Gary Selbie, perbaikan kebijakan yang dilakukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) seyogyanya didukung juga dengan upaya perbaikan kebijakan oleh pemangku kepentingan di sektor lainnya.

“Kerjasama di antara seluruh pemangku kepentingan merupakan salah satu prioritas IPA pada tahun 2021 ini. Kementerian Keuangan merupakan salah satu stakeholder yang penting di industri hulu migas, selain Kementerian ESDM,” ungkap Gary pada acara IPA Planning and Strategy Meeting beberapa waktu lalu.

Dia menegaskan, penghargaan terhadap kesucian kontrak, kepastian peraturan, dan fasilitas fiskal yang menarik merupakan tiga hal yang paling penting untuk dapat menarik minat investor migas dalam menanamkan investasinya di Indonesia. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah masih besarnya cadangan migas di Indonesia yang belum dieksplorasi dan produksi.

“Saat ini, IPA telah dilibatkan dalam banyak diskusi dengan Kementerian ESDM untuk menghasilkan kebijakan yang lebih dapat menarik investasi pada industri hulu migas nasional,” ujar Gary.

Namun, tegasnya, kebijakan yang diterbitkan tersebut perlu mendapat respon yang positif dari pemangku kepentingan lainnya. Pasalnya, aktivitas hulu migas sangat terkait dengan kementerian atau lembaga lainnya, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Berdasarkan data terbaru yang dikeluarkan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), produksi rata-rata per hari migas nasional pada kuartal pertama 2021 tercatat sebanyak 679.500 BOPD minyak bumi dan 5.539 MMSCFD gas bumi. Angka itu sekitar 97,3 persen dari target produksi tahun 2021 yang sebesar 705.000 BOPD untuk minyak bumi dan 5.638 MMSCFD untuk gas bumi.

Dengan adanya tren harga minyak dunia yang membaik pada tahun ini, diharapkan dapat mendorong tingkat investasi industri hulu migas.

“Tren investasi juga sudah mulai kelihatan membaik, setelah pada 2020 karena pandemi, investasi hulu migas di dunia menurun 30 persen, dan sekarang ini sudah mulai membaik,” jelas Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto pada Konferensi Pers Kinerja Hulu Migas Kuartal I 2021 beberapa waktu lalu.

Menurut Dwi, SKK Migas mengupayakan beberapa hal untuk mengejar target produksi dan lifting migas tahun 2021, di antaranya meningkatkan program kerja pemboran sumur, workover, dan pemeliharaan sumur (well service). Melalui upaya ini diharapkan terdapat peningkatan produksi migas.

Dalam hal kerja sama dengan sektor lain, SKK Migas saat ini bersama Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan tengah berdiskusi untuk rencana pemberian sistem fiskal yang menarik bagi pengembangan lapangan-lapangan migas di Indonesia. Insentif tersebut diperlukan untuk menjaga tingkat keekonomian proyek pengembangan lapangan.

“Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga tingkat keekonomian investor. Kami harapkan komitmen ini turut diikuti oleh pelaksanaan komitmen program kerja oleh KKKS,” ujar Dwi.

Di sisi lain, lembaga kajian Wood Mackenzie secara terpisah menyoroti minimnya investasi pada sektor hulu migas dan hal itu akan bertahan pada tahun ini.

Head of Upstream Analyst Wood Mackenzie, Fraser McKay, mengatakan investasi hulu migas secara global akan stagnan pada angka US$ 300 miliar pada tahun 2021.

Data Wood Mackenzie menunjukkan iklim investasi migas Indonesia berada di bawah rata-rata global. Skala daya tarik fiskal hulu migas Indonesia hanya mencapai 2,4 (pada skala 0-5). Angka itu berada di bawah rata-rata dunia yang sebesar 3,3.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here