Boyolali, Petrominer – Sektor tekstil dan busana menjadi salah satu fokus implementasi Making Indonesia 4.0. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang tengah diprioritaskan pengembangannya sebagai pionir dalam peta jalan penerapan revolusi industri keempat.

PT Pan Brothers Tbk., sebagai salah satu perusahaan TPT yang terintegrasi dari hulu ke hilir, mengaku sudah mulai mengimplementasi industri 4.0. Menurut Human Resources Management General Manager Pan Brothers, Nurdin Setiawan, untuk memperkuat produksi material di sektor hulu, tahun 2019 perusahaan menargetkan pembangunan pabrik untuk kain (fabrics) di salah satu negara bagian di Amerika Serikat.

“Saat ini kami masih dalam tahap penjajagan dan pemaparan rencana pendirian. Namun demikian produk dari perusahaan yang akan didirikan nanti untuk akan memenuhi permintaan pasokan perusahaan furnitur Swedia, Ikea,” ujar Nurdin kepada Petrominer saat kunjungan Forum Wartawan Industri (Forwin) ke salah satu pabrik di Boyolali, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, nilai investasi pendirian pabriknya saja diperkirakan mencapai US$ 30 juta. Dana tersebut berasal dari sindikasi sejumlah bank maupun dari hasil penjualan obligasi perusahaan beberapa tahun yang lalu.

Pabrik yang akan dibangun dalam kurun waktu setahun tersebut akan dioperasikan secara otomasi penuh (full automatic), sehingga berbeda dengan pabrik-pabrik yang ada di Indonesia. Pabrik baru itu akan menggabungkan antara operasional secara digital, otomasi dan robotic, mengingat Pan Brothers termasuk salah satu perusahaan yang telah menerapkan industri 4.0.

Pendirian pabrik di Amerika Serikat itu juga untuk mengejar visi perusahaan jangka menengah dan jangka panjang tahun 2034 untuk menjadi penguasa garmen nomor satu dunia dengan target penjualan mencapai US$ 20 miliar. Total penjualan di tahun 2017 mencapai US$ 549,35 juta, dan tahun ini ditargetkan penjualannya mencapai US$ 638,6 juta.

Sementara itu, Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka Kemenperin Muhdori mengaku optimistis industri TPT nasional dapat tumbuh hingga 4-6 persen tahun 2018. Tahun lalu, sektor ini mampu bertumbuh 3,45 persen, melonjak tajam dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 1,76 persen.

“Sebanyak 30 persen pakaian jadi dari hasil industri tekstil kita adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, sedangkan 70 persennya untuk ekspor,” ungkap Muhdori.

Kemenperin mencatat, nilai ekspor industri TPT nasional mencapai US$ 12,58 miliar pada tahun 2017 atau naik 6 persen dibanding tahun sebelumnya. Selain itu, sektor ini menyumbang ke PDB sebesar Rp 150,43 triliun di tahun 2017.

Tahun 2018 Kemenperin mematok ekspor industri TPT US$ 13,5 miliar dan menyerap tenaga kerja 2,95 juta orang. Tahun 2019, ekspornya diharapkan bisa mencapai US$ 15 miliar dan menyerap 3,11 juta tenaga kerja. Sektor ini mampu mengisi pangsa ekspor dunia 1,6 persen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here