PLTS Atap di gedung milik pemerintah.

Bandung, Petrominer – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral kenaikan jumlah pelanggan PT PLN (Persero) yang telah memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Atap. Hingga Oktober 2020, tercatat sebanyak 2.566 pelanggan dengan total kapasitas 18 megawatt (MW).

Sejak regulasi PLTS Atap, yakni Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 49 Tahun 2018, diluncurkan pada Desember 2018, perkembangan PLTS Atap semakin baik. Dari sisi golongan pelanggan, pemanfaatan PLTS Atap didominasi oleh golongan pelanggan industri.

“Sekarang kita mencatat per Oktober 2020 ada 2.566 pelanggan dengan total kapasitas sudah 18 MW. Memang masih sangat kecil dibandingkan pembangkit yang ada, tetapi secara individual sangat memberikan manfaat kepada pelanggan,” ujar Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan, Kementerian ESDM, Harris, saat membuka Sosialisasi Pemanfaatan Sistem PLTS Atap di Sektor Perumahan dan Bangunan Komersial yang dilaksanakan secara virtual dan tatap muka (hybrid), Kamis (19/11).

Harris menjelaskan, pengembangan PLTS Atap sudah diinisiasi sejak 10 tahun lalu, tetapi saat itu kebijakan belum memberikan respon yang baik sehingga belum dapat berkembang. Selang beberapa tahun kemudian, PLN menginisiasi pemanfaatan PLTS Atap dan mampu menarik cukup banyak pelanggan untuk memasang panel surya di rumah.

Pasca penetapan Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2018 terkait PLTS Atap, perkembangan PLTS Atap semakin baik. Apalagi, Pemerintah telah mencanangkan berbagai program untuk menggenjot pengembangan PLTS Atap. Antara lain program pemasangan PLTS Atap di gedung-gedung pemerintah dan BUMN, serta PLTS Atap di gedung komersial.

Selain itu, ada juga program pemasangan PLTS Atap pada pembangunan rumah baru, yang merupakan program kerja sama dengan Kementerian PUPR dan DPP Persatuan Perusahaan Realstat Indonesia (REI), pemasangan PLTS Atap di rumah pelanggan golongan tarif R-1, pemberian insentif atau skema pembiayaan menarik untuk pemasangan PLTS Atap pada pelanggan PLN golongan lebih dari 1.300 VA.

Saat ini, menurut Harris, mekanisme bisnis untuk pengembangan PLTS Atap sangat mudah. Tinggal bagaimana mengakselerasi dan memotivasi untuk bisa memasangnya. Dia pun berharap melalui forum ini, pelaku sektor perumahan dan bangunan komersial dapat mempertimbangkan untuk mengambil manfaat maksimal dari potensi pemanfaatan PLTS Atap.

“Terakhir saya menyampaikan bahwa regulasi tetap kita perbaiki mudah-mudahan dalam waktu yang tidak lama, kita masih akan melakukan revisi dalam rangka perbaikan PLTS Atap ini sehingga menjadi lebih menarik,” ungkapnya.

Ketentuan PLTS Atap

PLTS Atap adalah proses pembangkitan tenaga listrik dengan menggunakan modul fotovoltaik yang diletakkan di atap, dinding atau bangunan lain dari bangunan milik pelanggan PLN. Sistem PLTS Atap meliputi panel surya, inverter, sambungan listrik pelanggan, sistem pengaman, dan meter kWh Ekspor-Impor dengan kapasitas 100 persen daya tersambung konsumen (Watt).

Ketentuan terkait pembangunan dan pemasangan PLTS Atap adalah sebagai berikut:

  • Konsumen PLN mengajukan permohonan pembangunan dan pemasangan PLTS Atap kepada GM Unit Induk Wilayah/Distribusi PLN,
  • Konsumen PLN daya terpasang >500 kVA wajib memiliki izin operasi,
  • Pembangunan dan pemasangan Sistem PLTS Atap wajib dilakukan oleh Badan Usaha pembangunan dan pemasangan Sistem PLTS Atap; atau lembaga milik Pemerintah/Pemda yang melakukan usaha jasa pembangunan/pemasangan PLT EBT,
  • Pelanggan PLTS Atap adalah pelanggan Pascabayar termasuk sektor industri,
  • Instalasi Sistem PLTS Atap wajib memiliki SLO (>500 kVA) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here