Jakarta, Petrominer – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mendorong partisipasi pelaku usaha dalam mendukung upaya pencapaian target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat, serta pemenuhan target bauran energi nasional dari energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada tahun 2025. Salah satu program strategis yang tengah digarap adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap secara masif.
“Pengembangan PLTS Atap merupakan program strategis bagi Kementerian ESDM. Tidak hanya dari sisi energi, tetapi ingin juga menjadi penggerak dari sisi ekonomi. Kami sedang menyiapkan ekosistem supaya rantai pasok dan pemanfaatannya terjadi di dalam negeri,” ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, dalam Peresmian PLTS Atap di Kawasan Industri Jababeka dan Deklarasi Jababeka Net Zero Forum, Rabu (11/1) lalu.
Menurut Dadan, saat ini Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal EBTKE tengah melakukan pembahasan revisi Peraturan Menteri Nomor 26 Tahun 2021 yang mengatur pemanfaatan PLTS Atap guna mendorong optimalisasi capaian pemanfaatan PLTS Atap.
“Ke depan, tidak ada batasan kapasitas per pelanggan sepanjang masih tersedia kuota pengembangan PLTS Atap. Ekspor listrik tidak lagi dihitung sebagai pengurang tagihan dan penghapusan biaya kapasitas bagi pelanggan golongan industri. Selain itu, pelanggan eksisting akan mengikuti aturan baru setelah berakhirnya kontrak atau tercapainya payback period paling lama 10 tahun,” jelasnya.
Saat ini, PLTS Atap telah menjadi solusi pemanfaatan energi terbarukan di perkotaan yang lahannya terbatas. Potensi PLTS Atap secara nasional mencapai 32,5 giga watt (GW) dari pelanggan golongan rumah tangga, industri, bisnis, sosial maupun pemerintah. Namun, pemanfaatannya baru sekitar 80 MWp di akhir tahun 2022.
Dalam kesempatan itu, Dadan juga menyampaikan penghargaan dan apresiasi kepada PT Jababeka Tbk yang telah mendorong pemanfaatan EBT dengan terpasangnya PLTS Atap berkapasitas 230 kWp. Hal ini dicapai melalui kolaborasi antara PT Jababeka Infrastruktur dan PT Pertamina Power Indonesia. Penambahan ini akan memperbesar pemanfaatan PLTS Atap di kawasan industri Jababeka yang telah mencapai 3,5 MWp.
Pembangungan PLTS Atap merupakan salah satu upaya Jababeka dalam inisiatif mencapai Net Zero Emission. Pada kawasan Industri Jababeka sudah terdapat delapan tenant yang menggunakan PLTS Atap dengan total kapasitas mencapai 3.521,3 kWp atau sekitar 3,5 MWp. Selain itu, terdapat potensi 12 tenant yang akan memasang PLTS Atap dengan total kapasitas sekitar 4,7 MWp.
“Kawasan Industri Jababeka berkomitmen penuh dalam mewujudkan visi bangsa untuk mewujudkan masa depan industri yang lebih baik di Indonesia NZE pada tahun 2060, di mana energi terbarukan menjadi nyawa dari gerakan ini,” tutur Presiden Direktur PT Jababeka Infrastruktur, Cahyadi Raharja.
Komitmen tersebut kemudian dituangkan pada B20 side event di mana kelompok industri/perusahaan di Kawasan Industri Jababeka menandatangani pernyataan bersama dan mengumumkan rencana menjadi the first Net Zero Industrial Cluster di kawasan Asia Tenggara dan menjadi yang ke-12 di dunia. Selain itu, pada World Economic Forum Annual Summit 2023 di Davos akan diluncurkan Jababeka Net Zero Forum yang bertujuan untuk mengumpulkan ide, peluang, strategi, dan rencana gerakan Net Zero Emission di Kawasan Industri Jababeka.









Tinggalkan Balasan