Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA), Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih.

Jakarta, Petrominer – Kementerian Perindustrian melakukan pendekatan One Village One Product (OVOP) dalam membina Industri Kecil dan Menengah (IKM). Tujuaannya mendorong pertumbuhan dan pengembangan IKM di seluruh daerah, sambil mengidentifikasi potensi IKM unggulan dari sentra IKM masing-masing daerah.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih, menjelaskan bahwa untuk meningkatkan daya saing IKM sesuai dengan keunggulan daerah, Kemenperin melaksanakan program pembinaan di sentra IKM. Dinas terkait bidang perindustrian di kabupaten/kota dapat mengusulkan untuk penilaian di tahun 2021.

“Setiap daerah di Indonesia punya potensi masing-masing dengan keunggulan komparatif, baik sumber daya alam yang dijadikan bahan baku maupun keterampilan sumber daya manusianya. Kegiatan sosialisasi ini bagian dari penyelenggaraan Penghargaan OVOP tahun 2021. Ini sebagai tahap awal menggandeng dinas terkait bidang perindustrian di kabupaten/kota,” ungkap Gati saat meluncurkan Sosialisai Program OVOP, Kamis (19/11).

Sesuai program Pemerintah, 35 persen produk yang selama ini diimpor akan disubstitusi oleh produk dalam negeri sampai akhir tahun 2020. Peluang ini harus bisa dimanfaatkan oleh para pelaku industri di dalam negeri, yang juga terbuka bagi para pelaku IKM.

Sebanyak 53 kabupaten dan kota, yang tersebar di 20 provinsi seluruh Indonesia, telah diidentifikasi memiliki OVOP sesuai potensi daerahnya, dengan total 112 produk. Provinsi terbesar yang memiliki potensi OVOP dari bintang Satu sampai bintang Lima adalah Provinsi Bangka Belitung, dengan 25 produk yang tersebar di tujuh kabupaten/kota.

Sejak tahun 2013, Kemenperin telah memberikan Penghargaan OVOP kepada IKM yang memenuhi kriteria dan persyaratan sebagai IKM OVOP. Sesuai hasil penilaian, mereka terbagi atas lima kelompok komoditas, yaitu makanan dan minuman, kain tenun, kain batik, anyaman, dan gerabah.

Pada penyelenggaraan terakhir, terdapat 118 IKM OVOP yang memenuhi kriteria. Terdiri atas 63 IKM komoditas makanan dan minuman, 22 IKM komoditas kain tenun, 13 IKM komoditas kain batik, 10 IKM komoditas anyaman, dan 4 IKM komoditas gerabah.

Dari sejumlah IKM tersebut, ada empat IKM OVOP yang masuk kategori Bintang Lima, yaitu PT. Tama Cokelat Indonesia dari Garut dengan produk cokelat dodol pada komoditas makanan dan minuman, Tenun Antik Hj. Fatimah Sayuthi dari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar dengan produk kain tenun pada komoditas kain tenun, Batik Winotosastro dari Yogyakarta dengan produk kain batik pada komoditas kain batik, dan UD. Mawar Art Shop dari Kabupaten Lombok Barat dengan produk anyaman ketak pada komoditas anyaman.

Re-branding

Menurut Gati, konsep pendekatan pembinaan IKM di sentra yang teridentifikasikan sebagai OVOP perlu segera dilakukan re-branding IKM OVOP. Tujuannya agar lebih bersemangat dalam melakukan pembinaan IKM yang bahan bakunya berasal dari daerah masing-masing.

“Dengan demikian kita tidak menghasilkan produk yang bahan bakunya berasal dari impor. Masalahnya selama pandemi Covid-19, masyarakat produsen di minta tetap terus semangat memproduksi, namun pasarnya tidak mampu menyerap produk. Ini menjadi tugas pemerintah, melalui serapan APBN dan APBD, sehingga produk-produk IKM tersebut dapat diserap oleh pasar,” ungkapnya.

Dalam konteks daya saing produk, menurut Gati, terdapat aspek yang by nature telah melekat pada produk tersebut. Baik karena bahan bakunya, ciri khas dan keunikannya, tradisi, kearifan lokalnya maupun reputasinya. Jika diberikan pembinaan yang tepat, aspek tersebut dapat menjadi champion dan faktor pendorong penggerak ekonomi daerah.

Inilah yang akan menjadi rencana ke depan. Pembinaan IKM melalui pendekatan OVOP akan fokus pada aspek yang dapat mendorong IKM go global, seperti inovasi dan pengembangan produk sesuai permintaan pasar, serta re-branding IKM OVOP, sehingga akan meningkatkan akses pasar bagi produk IKM OVOP.

Sesi Sosialisasi

Lebih lanjut, Gati menjelaskan bahwa penyelenggaraan sosialisasi Program Pembinaan IKM di Sentra melalui Pendekatan OVOP akan berlangsung dalam tiga sesi. Sosialisasi ini ditujukan kepada aparat pembina industri di Kabupaten, Kota dan Provinsi di seluruh Indonesia.

Sesi I diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 19 November 2020, dengan peserta dari Kabupaten, Kota dan Provinsi di wilayah Pulau Sumatera dan Kalimantan. Dalam acara sosialisasi turut hadir salah satu IKM OVOP Bintang Lima sebagai narasumber, yaitu Batik Winotosastro. Di Yogyakarta terdapat empat IKM OVOP lainnya yang bergerak di komoditas kain batik, yang tak terpisahkan dari sejarah Indonesia.

Sesi II akan diselenggarakan tanggal 24 November 2020 bagi Kabupaten, Kota dan Provinsi di wilayah Pulau Sumatera, dan sesi III akan diselenggarakan tanggal 27 November 2020 bagi Kabupaten, Kota dan Provinsi di wilayah Kepulauan Nusa Tenggara, Pulau Bali, Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Pulau Papua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here