(kiri ke kanan) Presiden Direktur PT BBJ, Stephanus Paulus Lumintang, Kepala Bappebti Kemendag Bachrul Chairi, dan Plt Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI), Fajar Wibhiyadi. (Petrominer/Nonie)

Malang, Petrominer – Seperti halnya komoditi timah di mana Indonesia sudah mampu menjadi acuan harga internasional (reference price), Pemerintah berupaya agar komoditi lainnya yang produksinya dikuasai Indonesia, seperti CPO (crude palm oil) atau minyak sawit mentah, bisa menjadi acuan harga di bursa berjangka (futures market).

Demikian dikemukakan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi dalam pelatihan wartawan industri perdagangan berjangka komoditi di Malang, Jawa Timur, Jum’at (6/10),

“Kendati Indonesia menguasai produksi CPO dunia, tetapi referensi (acuan) harganya masih menggunakan patokan harga di Malaysia (Kualalumpur Commodity Exchange). Itu sebabnya, bursa berjangka di Indonesia sangat berpeluang menjadi referensi harga,” ujar Bachrul.

Menurutnya, sejak menjadi referensi harga acuan timah, melalui Indonesia Commodity Derivatives Exchange (ICDX/Bursa Komoditi Derivatif Indonesia), kondisi harga menjadi lebih stabil. Kehadiran bursa berjangka ini juga telah menekan ekspor timah secara ilegal. Bahkan pasar fisik juga pada akhirnya berperanan mendukung perekonomian Indonesia, dengan mekanisme pembentukan harga timah yang lebih baik.

Karena itulah, Pemerintah tengah berupaya untuk menjadikan komoditi lainnya sebagai acuan harga. Sebenarnya banyak komoditi yang ada di Indonesia dan berpeluang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan referensi harga. Apalagi selama ini, hal tersebut sudah dimanfatkan oleh sebagian besar industri dengan melakukan lindung nilai (hedging) di Indonesia, baik untuk short market maupun dalam bentuk futures market.

“Seperti yang dilakukan oleh industri pengolahan tepung terigu yang sudah memanfaatkan lindung nilai untuk memperoleh harga gandum impor yang stabil,” ujar Bachrul.

Padahal belakangan ini, harga jual gandum tengah menunjukkan fluktuasi harga karena sejumlah area di negara produsen tersapu badai. Dengan stabilitas pasokan, produsen terigu di dalam negeri memanfaatkan pembelian jangka pendek on the sport. Selain itu, mereka juga tetap melakukan hedging, sehingga produsen tetap diuntungkan karena mampu memperoleh harga yang relatif stabil.

Itu sebabnya, menurutnya, salah satu hal yang akan dibenahi dalam pasar berjangka adalah menata dari sisi regulasi, sehingga pada akhirnya pihak regulator lebih mampu memahami industri bursa berjangka. Nantinya, sistem regulatory work nantinya akan dibenahi, supaya dapat mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara ekonomi.

Peluang Kerjasama

Dalam kesempatan sama, Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) Stephanus Paulus Lumintang mengemukakan, salah satu optimismenya dalam mengelola BBJ adalah karena bursa berjangka ini sudah mulai dilirik oleh sejumlah bursa di luar negeri, antara lain dari Dubai (Uni Emirat Arab), RRT (Tiongkok), dan juga bursa Australia untuk menjalin peluang yang lebih menjanjikan.

“Kami optimis karena tidak hanya negara-negara di ASEAN saja yang berminat bekerjasama bahkan menjadi bagian dari kepemilikan di BBJ. Tetapi hal tersebut juga membuktikan sikap optimistik kami cukup beralasan. Kami harus akui likuiditas memang menjadi salah satu kendala dalam penyelenggaraan bursa berjangka. Meski demikian, karena usia sudah lebih dari 20 tahun, BBJ diharapkan mampu menjadi bursa berjangka yang memiliki visi ke depan lebih baik.

“Itu sebabnya kami terus berinovasi untuk mempadupadankan kemampuan yang ada di bursa berjangka lainnya. Bahkan kami berusaha, sehingga pada akhirnya komoditi yang diperdagangkan di BBJ, mampu menjadi price reference di pasar internasional,” paparnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here