Menteri ESDM, Arifin Tasrif.

Jakarta, Petrominer – Pemerintah terus berupaya memberikan pasokan energi bersih untuk masyarakat. Pasokan baru berbasis energi baru terbarukan (EBT) pun terus ditambah. Tidak hanya itu, pembangkit-pembangkit listrik berbasis fosil yang menghasilkan emisi tinggi bakalan dikonversi ke pembangkit berbasis EBT yang lebih ramah lingkungan.

“PLN sedang melakukan inventarisasi pembangkit listrik tenaga diesel, batubara dan gas untuk digantikan dengan pembangkit EBT, termasuk rencana kerjanya,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, Jum’at (31/1).

Berdasarkan inventarisir oleh PT PLN (Persero), jelas Arifin, tercatat ada 2.246 unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di 29 propinsi. Total kapasitas pembangkit yang sudah berusia lebih dari 15 tahun itu mencapai 1.777,87 megawatt (MW).

Sementara Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ada 23 unit di 7 propinsi, dengan total kapasitas 5.655 MW, dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) ada 46 unit di 5 propinsi, dengan total kapasitas 5.912,17 MW. Seluruh PLTU dan PLTGU tersebut sudah berusia lebih dari 20 tahun.

“Semua pembangkit berbasis fosil tersebut akan dikonversi ke pembangkit EBT,” tegasnya.

Menurut Arifin, pemanfaatan EBT saat ini sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi dan juga sudah menjadi program prioritas nasional. Apalagi, potensi EBT di Indonesia sangat besar yakni lebih dari 400 Giga Watt, namun pemanfaatannya masih 2,5 persen.

Peluang investasi di sub sektor EBT ini sangat besar. Target tambahan kapasitas pembangkit listrik EBT hingga tahun 2025 sebesar 17,4 Giga Watt dengan investasi sekitar US$ 41,2 miliar.

Nilai investasi tersebut terdiri dari PLT Panas Bumi sebesar US$ 17,45 miliar, PLT Air atau Mikrohidro senilai US$ 14,58 miliar, PLT Surya dan PLT Bayu senilai US$ 1,69 miliar, PLT Sampah senilai US$ 1,6 miliar, PLT Bioenergi senilai US$ 1,37 miliar dan PLT Hybird sebesar US$ 0,26 miliar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here