Jakarta, Petrominer – Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) kian menjadi fokus Pemerintah. Seiring berkembangnya teknologi, efisiensi untuk menghasilkan tenaga listrik yang bersumber dari EBT adalah sebuah keniscayaan.
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki wilayah laut cukup luas. Di kawasan ini ada sumber energi cukup besar, yakni arus laut. Potensi ini belum dimanfaatkan hingga kini.
Hal ini terungkap saat Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM, Rida Mulyana, melakukan kunjungan lapangan ke salah satu perusahaan yang mengembangkan energi arus laut menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL), yaitu Naval Energies di Cherbourg, Perancis.

Energi arus laut yang dikembangkan oleh Naval Energies ini memiliki teknologi turbin sederhana, yaitu hanya memiliki satu bagian yang bergerak menggunakan air laut sebagai pelumas. Dengan teknologi ini, biaya operasi dan pemeliharaan lebih rendah jika dibandingkan menggunakan teknologi propeller.
Dengan menggunakan OpenHydro Open-Centre Turbine ini, didapatkan listrik sebesar 2 mega watt (MW). Turbin ini memiliki diameter 16 meter dan kecepatan arus sebesar 2-5 meter per detik. Dalam pengembangannya, turbin tersebut dapat dirangkai secara paralel untuk mendapatkan kapasitas yang optimal.
“Sebagai negara kepulauan, Indonesia mempunyai topografi yang ideal untuk mengembangkan energi dari arus laut. Selat antara dua pulau menghasilkan potensi energi yang cukup besar,” ujar Rida dalam siaran pers yang diterima Petrominer, Jum’at (10/11).
Di Indonesia, juga sudah ada PT Arus Indonesia Raya (AIR). Perusahaan ini memiliki kerja sama dengan Naval Energies dalam mengembangkan industri turbin arus laut, dan telah melakukan studi di beberapa lokasi di Indonesia. Terdapat beberapa wilayah yang cocok apabila dikembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL). Dari hasil studi yang dilakukan di 10 titik lokasi, diperoleh potensi listrik yang dapat dihasilkan dari arus laut Indonesia mencapai hampir sebesar 1,4 GW.
Rida menyambut baik rencana Naval Energies dan PT AIR untuk mengembangkan industri energi arus laut di Indonesia, dengan tetap memperhatikan peraturan yang berlaku di Indonesia. Dia juga menyampaikan bahwa teknologi ini dapat menjadi salah satu pilihan dalam pengembangan energi arus laut di Indonesia untuk pencapaian target bauran dari energi terbarukan 23 persen di tahun 2025.
Sebelumnya, Menteri ESDM Ignasius Jonan pernah menyampaikan, saat ini telah ada investor dari Belanda yang akan membangun PLTAL berkapasitas 20 MW di Selat Larantuka, Nusa Tenggara Timur. Harga listrik yang ditawarkan 7,18 cent US$ per kWh.









Tinggalkan Balasan