, ,

Peluang Bisnis Asuransi di Hulu Migas Masih Besar

Posted by

Jakarta, Petrominer – SKK Migas terus berupaya meningkatkan standar keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lindungan Lingkungan (K3LL) pada operasional hulu migas. Langkah ini tidak hanya mengoptimalkan operasional sehingga penyelesaian proyek sesuai perencanaan, tapi juga menciptakan pengembangan risk management yang semakin baik dan berkesinambungan.

Tentunya, hal ini dapat meningkatkan kepercayaan pihak asuransi sehingga memicu premi asuransi yang lebih kompetitif dan pada akhirnya meningkatkan efisiensi industri hulu migas. Demikian salah satu kesimpulan dari Focus Group Discussion (FGD) “Arah Baru Industri Migas: Peran Asuransi Dalam Mendukung Industri Hulu Migas” yang diselenggarakan SKK Migas bekerjasama dengan Energy Watch, Rabu (14/7).

Kegiatan diskusi secara virtual ini dibuka oleh Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas Arief S. Handoko. Diikuti oleh perusahaan hulu migas, perusahaan asuransi dan media, dengan menghadirkan narasumber dari SKK Migas, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), Pertamina Hulu Energi (PHE) dan perwakilan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI).

Dalam kesempatan itu, Kepala Divisi Strategi Bisnis, Manajemen dan Perpajakan SKK Migas, Eka Bhayu Setta, mengatakan bahwa kegiatan industri hulu migas Indonesia bukan sunset industri, tetapi akan terus berkembang seiring adanya target produksi 1 juta BOPD minyak dan 12 MMSCFD gas pada tahun 2030. Untuk mendukung capaian target itu, aktivitas eksplotasi dan produksi akan meningkat, sehingga dipastikan adanya kolaborasi dan sinergi antara SKK Migas dengan KKKS dan industri asuransi yang terus meningkat dan memiliki persepsi semakin baik.

Menurut Eka Bhayu, peningkatan kegiatan hulu migas tentunya akan turut meningkatkan kebutuhan terhadap jaminan asuransi, sehingga akan membutuhkan tambahan biaya asuransi. Pengelolaan operasional dan keselamatan hulu migas yang baik serta risk management yang berkesinambungan serta penerapan good engineering practice diharapkan dapat berdampak pada peningkatan kualitas risiko dan berdampak pada premi asuransi yang lebih efisien.

“Kami bersyukur dapat menyakinkan kepada kawan-kawan asuransi bahwa industri hulu migas standar pengelolaan dan keselamatan terus meningkat. Dampaknya premi yang dikenakan menjadi semakin kompetitif dan mendukung daya saing industri hulu migas,” ujarnya.

Karena itulah, tegas Eka Bhayu, SKK Migas akan mendorong asuransi nasional untuk dapat memanfaatkan peluang peningkatan produksi dimasa yang akan datang.

Sementara Deddy Andrian dari PHE menyampaikan bahwa asurans berfungsi dalam mitigasi resiko. Kuncinya tetap bagaimana menjaga operasional hulu migas memenuhi standar yang tinggi dan terjaga dengan baik.

“K3LL harus dijaga karena menjadi faktor utama untuk menekan suatu kejadian negative yang berpotensi terjadi. Jika kita bisa menjaga dengan baik, maka risiko menjadi lebih rendah, dan dampaknya biaya asuransi menjadi lebih kecil. Target kami bukan meningkatkan klaim asuransi, tetapi justru bagaimana agar tidak ada klaim,” ungkap Deddy.

Hal senada juga disampaikan oleh narasumber dari Jasindo, selaku leader konsorsium aset dan proyek konstruksi, dan AAUI. Keduanya sepakat bahwa pelaksanaan keselamatan kerja dan pengelolaan aset hulu migas terus membaik, sehingga pihak asuransi memberikan penilaian resiko yang rendah.

Menurut Direktur Bisnis Strategi Jasindo, Syah Amondaris, beban biaya asuransi di industri hulu migas terus menurun. Ini menunjukkan semakin rendahnya exposure resiko di sektor ini.

Sebagai contoh biaya asuransi dalam pekerjaan pengeboran dan pemeliharaan sumur yang kecenderungannya terus menurun. Di tahun 2012, biaya asuransi untuk pekerjaan pemboran sumur rata-rata sekitar Rp 70 juta, di tahun 2020 menjadi kurang dari Rp 20 juta per sumur. Sementara untuk pekerjaan pemeliharaan jika di 2012 masih berada di atas Rp 30 juta, di tahun 2020 sudah pada kisaran Rp 20 juta.

Sementara Wakil Ketua Bidang Pemasaran Asuransi AAUI, Diwe Novara, menyebutkan bahwa bisnis asuransi di sektor hulu migas masih besar. Saat ini, kemampuan perusahaan asuransi nasional dalam konsorsium di hulu migas hanya mampu meng-cover nilai aset sampai US$ 4 miliar, sedangkan potensinya sekitar US$ 38 miliar.

“Ada persyaratan ketat dari otoritas jasa keuangan (OJK), salah satunya porsi maksimal pembiayaan asuransi di hulu migas adalah 10 persen dari kemampuan perusahaan asuransi. Program meningkatkan produksi 1 juta barrel minyak dan 12 BSCFD gas di tahun 2030 adalah peluang bagi industri asuransi nasional agar jangan sampai justru perusahaan re-asuransi di luar negeri yang lebih banyak menikmati,” ujar Diwe Novara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *