Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki, Minahasa Utara, Sulawesi Utara menjadi lokasi konservasi monyet Yaki dari hasil sitaan masyarakat dan perdagangan satwa liar.

Bolaang Mongondow Timur, Petrominer – Pertamina bersama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara dan Yayasan Masarang melepasliarkan 13 ekor Monyet Hitam Sulawesi di kawasan konservasi TWA Gunung Ambang, Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara, Rabu (25/11)

Pelepasliaran monyet yang juga disebut Yaki (macaca nigra) ini dilakukan setelah melalui proses rehabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki. Momen pelepasliaran ini menjadi rangkaian dari Hari Ulang Tahun (HUT) Pertamina ke-63 serta peringatan Hari Cinta Puspa Satwa Nasional yang jatuh diperingati tanggal 5 November silam.

Menurut VP CSR & SMEPP Pertamina, Arya Dwi Paramita, Program CSR Konservasi Yaki merupakan program CSR Integrated Terminal Bitung Pertamina Regional Sulawesi dan PGE Area Lahendong yang sudah berjalan dari tahun 2017.

“Program CSR Pertamina terdiri dari empat pilar. Salah satunya adalah konservasi keanekaragaman hayati yang masuk pada pilar Pertamina Hijau,” ungkap Arya usai mengikuti rangkaian acara pelepasliaran Yaki.

Hal ini, jelasnya, merupakan wujud kepedulian perusahaan kepada pelestarian flora dan fauna, di mana saat ini Pertamina memiliki 55 program konservasi sejenis yang dilaksanakan oleh unit operasi Pertamina di seluruh Indonesia. Tentunya jenis flora dan fauna endemik menyesuaikan kondisi wilayah masing-masing baik secara geografis wilayah maupun lokasi operasional bisnis Pertamina.

Pada konservasi Yaki ini, Pertamina memberikan dukungan pembibitan pohon pakan alami Yaki, dukungan medical check up untuk animal keeper untuk meminimalisir resiko zoonosis serta pembuatan kandang habituasi untuk pelepasliaran Yaki di Gunung Ambang. Selain itu, Pertamina bersama Yayasan Masarang memberikan edukasi kepada masyarakat melalui program Tasikoki Conservation Camp dan pendidikan konservasi serta sosialisasi ke sekolah untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam melindungi satwa langka.

Pertamina memberikan bantuan Bina Lingkungan Bibit dan Pupuk senilai Rp 50 juta kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Belerang di Desa Liberia Timur, Kec. Modayang, Kab. Bolaan Mongondow Timur, Sulawesi Utara. Desa ini dekat dengan lokasi pelepasliaran monyet Yaki.

Sementara itu, Kepala BKSDA Sulut, Noel Layuk Allo, mengatakan Yaki yang baru saja dilepaspiaran ini merupakan hasil penyelamatan dari perdagangan satwa dan evakuasi dari kepemilikan illegal oleh BKSDA Sulut.

“Pelepasliaran Yaki ini dapat terlaksana berkat dukungan penuh dari Pertamina dan juga BKSDA Sulawesi Utara bersama mitra kerjanya, yaitu Yayasan Masarang – PPS Tasikoki, EPASS Tangkoko, Macaca Nigra Project (MNP), dan Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia (YSYI),” jelas Noel.

Lebih lanjut, dia menjelaskan pada tanggal 15 November 2020 lalu, kelompok Yaki ini dipindahkan ke kandang pelepasliaran di TWA Gunung Ambang untuk menjalani proses habituasi. Dengan begitu, mereka bisa beradaptasi dengan lingkungan baru sebelum benar-benar akan bebas di alam liar.

Di Indonesia, Yaki merupakan satwa yang dilindungi sebagaimana tertuang dalam UU. No.5 Tahun 1990. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui SK Dirjen KSDAE No.180/IV-KKH/2015 telah menetapkan Yaki sebagai salah satu jenis dari 25 jenis satwa terancam punah prioritas yang perlu ditingkatkan populasinya.

“Kegiatan Pelepasliaran Yaki (Macaca nigra) ini diharapkan dapat menambah populasi Yaki liar di alam sehingga dapat menjadi sarana edukasi dan juga meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap satwa liar. Jika upaya konservasi Yaki tidak dilakukan dari sekarang maka Yaki akan semakin terancam dan mendekati ambang kepunahan,” ungkap Noel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here