Direktur Jenderal ILMATE, Taufiek Bawazier (tengah), bersama Wakil Ketua DPR RI, Rachmat Gobel (kanan), saat meninjau lini produksi AC Inverter PT Panasonic Manufacturing Indonesia di Jakarta, Selasa (16/11).

Jakarta, Petrominer – PT Panasonic Manufacturing Indonesia (PMI) telah merelokasi pabrik AC inverternya dari Malaysia ke Indonesia. Ini menjadi langkah strategis bagi Indonesia dalam pencapaian program substitusi impor 35 persen dan pendalaman struktur industri produk AC.

”Industri elektronik dalam negeri semakin menunjukkan kinerja gemilang. Hal tersebut didukung pemerintah yang serius mengelola dan memperbaiki iklim usaha bagi pelaku industri melalui kebijakan yang probisnis,” ujar Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam sambutannya di acara produksi perdana AC inverter Panasonic yang disampaikan secara virtual, Selasa (16/11).

Agus menegaskan, tingginya nilai impor AC telah lama menjadi perhatian Pemerintah. Karena itu sejalan dengan program substitusi impor 35 persen dan Program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN), Kemenperin mendorong Kementerian atau Lembaga terkait agar pangsa pasar produk AC dapat didominasi produksi dalam negeri.

“Kami juga meminta para produsen AC lainnya menangkap peluang yang terbuka ini,” tegasnya.

Pendalaman struktur industri elektronik terlihat dari nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) produk AC yang mencapai 40 persen, di mana sebagian komponen diproduksi di dalam negeri. Pnasonic pun dinilai berpotensi meningkatkan investasi, terutama sektor komponen AC yaitu compressor.

Sementara partisipasi dan kontribusi bukan hanya dilihat dari berapa besar investasi tapi dilihat dari pembukaan pasar ekspor yang dihasilkan. Selain itu, dari pendalaman struktur yang juga melibatkan Industri Kecil Menengah (IKM).

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Taufiek Bawazier, menjelaskan bahwa pasar produk AC di Indonesia mencapai sekitar 1,8 juta set per tahun. Jumlah ini akan terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat.

“Namun saat ini suplai dari produsen dalam negeri masih sekitar 20 persen. Karena itu selisih antara supply dan demand ini menjadi peluang untuk diisi para produsen AC,” ungkap Taufiek.

Data menunjukkan, impor produk AC masih tinggi yakni US$ 0,33 miliar pada 2020, turun 19 persen dibandingkan impor tahun 2019 yang senilai US$ 0,41 miliar. Namun, data impor pada kuartal III-2021 menunjukkan impor produk AC kembali mengalami kenaikan 36,8 persen dari US$ 0,29 miliar menjadi US$ 0,398 miliar tahun ini.

Di sisi lain ekspor produk AC juga mengalami kenaikan 136,5% dari US$ 0,55 miliar pada kuartal III-2020 menjadi US$ 1,32 miliar pada kuartal III-2021. Hal ini menunjukkan potensi pasar AC di dalam negeri semakin meningkat disertai peningkatan produksi dan daya saing industri AC untuk ekspor.

Presiden Direktur PMI, Tomonobu Otsu, menegaskan bahwa Panasonic ingin melakukan perluasan investasi serta meningkatkan bisnis di Indonesia melalui produk-produk yang mendukung kehidupan masyarakat.

Unit Bisnis AC PMI yang berdiri tahun 1979 ini memproduksi AC inverter untuk kebutuhan pasar domestik dan AC non-inverter untuk pasar lokal dan ekspor ke Nigeria.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here