, ,

Paruh Pertama 2017, PLN Raih Laba Bersih Rp 2,3 Triliun

Posted by

Jakarta, Petrominer — PT PLN (Persero) melaporkan kinerja operasi semester pertama tahun ini lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun 2016. Ini tercermin dari kenaikan laba operasi sebesar Rp 2,0 triliun atau 12,84 persen menjadi Rp 17,6 triliun.

Dengan kinerja operasi tersebut, BUMN ini meraih laba bersih sebesar Rp 2,3 triliun. Namun sayang, pencapaian ini masih lebih rendah dibandingkan laba pada periode yang sama tahun lalu. Ini terjadi karena beban di luar operasi dan juga berkurangnya pendapatan selisih kurs.

“Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal yang bersifat insidental yaitu meningkatnya beban lain-lain di luar operasi yang bersumber dari beban tahun 2013 sebesar Rp 3,1 triliun, serta berkurangnya pendapatan selisih kurs sebesar Rp 2,1 triliun,” ungkap Direktur Keuangan PLN Sarwono mengutip laporan keuangan Semester 1 Tahun 2017 Unaudited, Kamis (27/7).

Sampai Juni 2017, paparnya, nilai penjualan tenaga listrik PLN mengalami kenaikan sebesar Rp 13,8 triliun, menjadi Rp 118,5 triliun. Naik 13,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp104,7 triliun. Pertumbuhan penjualan ini berasal dari kenaikan volume penjualan sebesar 108,4 Terra Watt hour (TWh), atau naik 1,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 107,2 TWh.

“Peningkatan penjualan tersebut sejalan dengan keberhasilan PLN selama semester pertama tahun 2017 menambah kapasitas pembangkit sebesar 1.663 MW yang berasal dari Pembangkit PLN sebesar 463 MW dan tambahan kapasitas dari Independent Power Producer (IPP) sebesar 1.199 MW, serta menyelesaikan 1.489 kilometer sirkuit (kms) jaringan transmisi dan Gardu Induk sebesar 5.750 MVA,” ujar Sarwono.

Peningkatan konsumsi kWh ini juga didukung dari adanya kenaikan jumlah pelanggan dimana sampai dengan akhir Semester I tahun 2017 telah mencapai 65,9 juta atau bertambah 1,6 juta pelanggan dari akhir tahun lalu sebesar 64,3 juta pelanggan. kenaikan konsumsi kWh tersebut di dominasi oleh konsumsi listrik di golongan tarif industri.

Bertambahnya jumlah pelanggan juga mendorong kenaikan rasio elektrifikasi nasional yaitu dari 91,16 persen pada 31 Desember 2016 menjadi 92,79 persen pada 30 Juni 2017.

Meskipun pada paruh pertama 2017 ini beberapa kondisi makro yang mempengaruhi penyesuaian tarif tenaga listrik yaitu kurs dolar Amerika, Indonesia Crude Price (ICP) dan/atau Inflasi mengalami kenaikan dibandingkan acuan APBN, namun demi mendukung kepentingan masyarakat serta untuk menjaga agar sektor Bisnis dan Industri tetap kompetitif, PLN memutuskan untuk tidak menaikkan tarif.

“Untuk itu, PLN melakukan efisiensi pada beberapa elemen biaya operasi yang berada dalam kendali perusahaan, untuk menutup kekurangan marjin usaha tersebut,” paparnya.

Seiring dengan meningkatnya produksi listrik, beban usaha perusahaan naik sebesar Rp 9,2 triliun atau 7,65 persen menjadi Rp 128,9 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 119,7 triliun.

Beban usaha yang mengalami kenaikan terbesar adalah beban pembelian tenaga listrik yang mengalami kenaikan sebesar Rp 6,7 triliun (24 persen) dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sehingga menjadi Rp 34,6 triliun. Selain itu, beban bahan bakar juga meningkat sebesar Rp 3,2 triliun dari Rp 52,0 triliun pada Juni 2016 menjadi Rp 55,3 triliun pada Juni 2017. Penyebab utama kenaikan beban pembelian tenaga listrik dan beban bahan bakar ini adalah naiknya harga rata-rata ICP sebesar 35,22 persen yang mendorong kenaikan harga BBM, dan naiknya rata-rata Harga Batubara Acuan (HBA) sebesar 58,61 persen yang mendorong kenaikan harga Batubara.

Earning Before Interest, Tax, Depreciation & Amortisation (EBITDA) pada Semester I tahun 2017 sebesar Rp 32,82 triliun, naik Rp 2,3 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp 30,42 triliun. Hal ini menunjukkan peningkatan kemampuan PLN dalam berinvestasi dengan dana internal dan kemampuan untuk mengembalikan pinjaman.

Selengkapnya Laporan Keuangan PLN Semester I Tahun Buku 2017 dapat dilihat di www.pln.co.id, menu stakeholder.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *