Jakarta, Petrominer – Sejumlah wanita dan ibu-ibu penggerak PKK minta Pemerintah untuk menetapkan harga listrik tetap stabil. Alasannya, biaya ini sudah menjadi kebutuhan pokok yang primer dan bisa mempengaruhi biaya untuk kebutuhan lainnya.

Demikian benang merah yang diuangkapkan dalam sebuah diskusi bertajuk “Perempuan dan Energi,” yang diselenggarakan, Minggu (11/2). Kegiatan ini digelar khusus untuk para perempuan, karena perempuan atau ibu rumah tangga sebagai penopang dalam kehidupan berumah tangga, dituntut melek informasi agar dapat mengantisipasi jalannya ekonomi dan kehidupan rumah tangga ke depan.

Acara dalam format obrolan santai ini menghadirkan para pembicara, Mutia Sari Syamsul sebagai Founder HCAUS (Human Capital for Us) Community, Founder & Committee IPSCLC (Indonesian Procurement Supply Chain & Logistic Community), Founder & CEO PT Unies Cita Marlindo & PT Magna Cita Marlin, Hj. Rusilowati Efendi sebagai Ketua Himpaudi (Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Usia Dini), Nunung Nur Kurniawati S. Pd sebagai Yayasan Al Mukhlisin, Ketua MR Al Hidayah Bintara Jaya serta Sri Mulyani S. Pd sebagai penggerak PKK di Bintara Jaya/Bekasi Barat.

Dalam obloran itu disimpulkan bahwa harga listrik yang stabil sangatlah penting. Sebab biaya atau tarif listrik sudah menjadi kebutuhan pokok yang primer, dan sama pentingnya dengan kebutuhan pulsa telepon dan bahan pangan.

Menurut Mutia, jika tarif listrik nanti naik, pasti kebutuhan yang lain akan ikut naik. Dia memberi contoh, kebutuhan transportasi untuk naik angkot, ongkos ojek, dan naik bus umum dan kereta api, biasanya ikut terkerek naik. Begitu juga kebutuhan utama lainnya seperti membeli pakaian seragam, alat tulis, buku-buku sekolah, dan buku pelajaran.

“Kebutuhan-kebutuhan tersebut pasti mengikuti kenaikan harga listrik yang menjadi energi dalam hidup kita,” jelas Mutia

Sementara Nunung menambahkan, para suami pasti bingung, karena harus kerja lebih keras, agar pendapatannya bisa mengikuti kenaikan harga listrik dan tarif-tarif lain yang mengikutinya. Buntut-buntutnya, setiap hari di rumah, suami istri bisa ribut melulu, karena jumlah uang yang ada, tidak bisa mengimbangi kebutuhan hidup yang terus melangit.

“Kami inginnya, kondisi ekonomi tetap stabil, tarif listrik juga seperti sekarang ini. Syukur-syukur kalau pemerintahnya lebih memperhatikan kami, dengan menurunkan tarif listrik untuk rumah tangga. Jika ini yang terjadi, situasi rumah tangga akan lebih aman, karena saat ini beban hidup kami sudah berat. Kondisi zaman saat ini sudah berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya,” paparnya.

Sebagai bagian dari pendidik, Rusilowati Efendi menyatakannya keinginannya agar para ibu yang harus mendidik anak-anaknya sebagai ibu di rumah tidak lagi ditambah bebannya jika ada tarif yang dinaikkan Pemerintah. Para ibu juga mencermati banyaknya berita pejabat yang terpaksa melakukan korupsi, karena kebutuhannnya lebih tinggi dari kemampuannya. Dia pun menyarankan agar para ibu bias diarahkan menjadi lebih produktif agar lebih mampu menghasilkan produk rumahan, yang kalau berhasil bisa dijual dan membantu ekonomi rumah tangga.

“Hal tersebut merupakan solusi ketimbang hanya meminta terus ke suami, supaya punya penghasilan lebih besar, sebagai dampak naiknya tarif listrik,“ ujar Sri Mulyani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here