Tanggamus, Lampung, Petrominer — Pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Ulubelu Unit 4 sejak Maret 2017 lalu memberi sumbangsih cukup signifikan bagi kelistrikan di Lampung. Pembangkit listrik dengan kapasitas 1×55 MW itu menambah pasokan listrik dari panasbumi menjadi 25 persen dari total kebutuhan listrik di Propinsi Lampung.
PLTP yang dikembangkan oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) ini merupakan realisasi dari komitmen tinggi PT Pertamina (Persero) dalam mengembangkan dan memanfaatkan sumber energi baru terbarukan (EBT). Dengan begitu, total kontribusi PGE kini mencapai 4×55 MW, baik dalam bentuk uap maupun listrik.
“Dengan tambahan kapasitas daya tersebut menjadikan porsi kontribusi panasbumi bagi ketenagalistrikan di lampung meningkat menjadi 25% terhadap total kebutuhan listrik di Provinsi Lampung,” ujar General Manajer PGE Area Ulubelu, Dirgo Rahayu, Jum’at (16/6).
Dirgo menjelaskan, pengembangan panasbumi di Ulubelu dimulai sejak tahun 1991 hingga 1997. Sempat terhenti karena krisis moneter, PGE kembali agresif pada tahun 2008 dan puncaknya PGE memasok uap ke pembangkit milik PT PLN (Persero), yaitu Ulubelu 1 dan 2 yang berkapasitas 2 x 55 Mw mulai tahun 2012.
Di Ulubelu, jelasnya, hingga saat ini PGE telah mengebor sebanyak 50 sumur, 23 diantaranya untuk PLTP 3 & 4 dan sisanya untuk Ulubelu 1 & 2. Di wilayah kerja panasbumi ini, PGE mencatat prestasi 16 juta jam kerja tanpa fatality.
Pemanfaatan lahan nya pun tidak begitu luas. Hanya sekitar 150 ha permukaan lahan dari total 92 ribu ha lahan wilayah kerja panasbumi PGE yang digunakan untuk memproduksi uap dan listrik dengan seluruh infrastruktur pendukungnya.
Pengembangan PLTP Ulubelu 3&4 berbeda dengan dua unit sebelumnya, yaitu total project sehingga PGE berperan dari hulu hingga Hilir, sebagai produsen listrik. Konstruksi dua unit pembangkit dimulai pada tahun 2014 dengan target penyelesaian 34 bulan.
“Unit 3 lebih cepat sebulan dari target dan telah beroperasi pada Juli 2016, sedangkan PLTP Ulubelu Unit 4 beroperasi pada Maret atau tiga bulan lebih cepat. Dukungan yang kuat dari semua pihak, pemerintah dan termasuk masyarakat setempat menjadikan proyek berjalan dengan baik,” ujar Dirgo.
Tidak kurang dari US$ 397 juta digelontorkan Pertamina untuk pengembangan sumur dan pembangunan PLTP Ulubelu Unit 3&4, berikut jaringan listrik yang terkoneksi dengan PLN. Investasi tersebut telah memberikan dampak signifikan bagi pengembangan ekonomi setempat.
“Banyak usaha pendukung tumbuh, mulai dari rumah kos, rumah makan, dan kegiatan ekonomi masyarakat lainnya yang menjadikan pertumbuhan ekonomi kecamatan Ulubelu paling tinggi dibandingkan kecamatan lainnya di Tanggamus,” ungkap Dirgo.
Potensi panasbumi di Provinsi Lampung cukup tinggi dan termasuk salah satu yang terbesar di Indonesia. Dengan sekitar 2.867 MW atau sekitar 10 persen dari total potensi panasbumi Indonesia, propinsi di selatan Sumatera ini menduduki peringkat ketiga setelah Jawa Barat dan Sumatera Utara.
Potensi panasbumi tersebut tersebar pada 13 lokasi di enam kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Waykanan dan Kota Bandarlampung.
Potensi panasbumi yang telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik sebesar 2×55 MW, yaitu PLTP Ulubelu unit 1 dan 2 yang berada di Kabupaten Tanggamus dan unit 3 dan 4 dengan daya mampu 2×55 MW. Sedangkan potensi panas bumi lainnya masih dalam tahap eksplorasi.
Selain itu, Beban puncak listrik Provinsi Lampung sebesar 819,6 MW dan daya mampu pembangkit listrik di Provinsi Lampung sebesar 538 MW dimana 4×55 MW dipasok dari PLTP.








Tinggalkan Balasan