Jakarta, Petrominer – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali menunjuk PT Medco E&P Indonesia untuk mengelola blok minyak dan gas bumi Rimau di Sumatera Selatan. Kontrak perpanjangan blok migas itu ditandatangani, Kamis sore (14/2).

“Pemerintah memandang bahwa Kontraktor eksisting memiliki kemampuan untuk mengelola lanjut blok Rimau yang saat ini menghasilkan produksi minyak sekitar 8.200 barel per hari,” ujar Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar usai menyaksikan penandatangan kontrak baru tersebut.

Arcandra menyatakan yakin Medco E&P Indonesia mampu mengelola Blok Rimau untuk lebih baik lagi. Apalagi, potensi migas di blok Rimau masih cukup menjanjikan. Cadangan status 1 Januari 2018, minyak bumi total 63.624 MSTB (terbukti 17.675 MSTB, potensial 45.949 MSTB) dan gas bumi total 20,6 BSCF (terbukti 17,5 BSCF, potensial 3,1 BSCF).

Kontrak baru bagi hasil blok Rimau ini akan berlaku 20 tahun, efektif sejak tanggal 23 April 2023. Pemegang Partisipasi Interes blok migas ini adalah PT Medco E&P Rimau (anak usaha Medco E&P Indonesia) sebesar 95 persen dan Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi sebesar 5 persen.

“Sinergi yang telah terjalin antara PT Medco E&P Rimau dan Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi yang merupakan BUMD Sumatera Selatan dalam mengelola blok Rimau selama ini memberikan dampak positif, tidak hanya bagi Kontraktor dan Negara namun juga bagi masyarakat di Daerah,” tegasnya.

Karena sudah ada perusahaan daerah di blok tersebut, menurut Arcandra, nantinya Medco E&P Indonesia hanya wajib menawarkan 5 persen lagi kepada daerah terkait kebijakan participating interest (PI) 10 persen untuk daerah, yang mengacu pada Permen ESDM Nomor 37 Tahun 2016.

Berdasarkan kontrak baru tersebut, Kontraktor menjanjikan investasi dari pelaksanaan Komitmen Kerja Pasti (KKP) 5 tahun pertama sebesar US$ 41.330.000 dan Bonus Tanda Tangan sebesar US$ 4.000.000.

Kontrak baru blok Rimau ini menggunakan skema gross split. Sementara besaran bagi hasil minyak bumi untuk lapangan eksisting: Pemerintah 37,5 persen dan Kontraktor 62,5 persen. Besaran bagi hasil ini telah memperhitungkan base split, komponen variabel sebesar 10 persen, dan tambahan bagi hasil untuk Kontraktor sebesar 9,5 persen.

Split tersebut akan disesuaikan dengan komponen progresif pada kondisi aktual sejak tanggal efektif kontrak kerja sama,” ujar Arcandra.

Sementara itu, Direktur Utama Medco E&P Indonesia, Ronald Gunawan, menegaskan bahwa pihaknya akan terus berkomitmen untuk memenuhi target produksi yang ditetapkan Pemerintah. Menurut Ronald, Perusahaan juga telah mampu menahan laju penurunan alamiah sumur-sumur di Wilayah Kerja Rimau melalui berbagai inovasi dengan tetap mengutamakan keselamatan kerja dan lindung lingkungan.

“Medco E&P berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan Pemerintah. Hal ini membuktikan bahwa Perusahaan mampu mengelola wilayah kerja Rimau secara optimal sehingga dapat memberikan sumbangsih bagi Pemerintah, industri dan masyarakat untuk pemenuhan energi domestik serta melalui program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here