
Jakarta, Petrominer – Jerman menjadi negara dengan konsumsi energi baru terbarukan (EBT) terbesar di dunia, yakni 12,74 persen dari total penggunaan energinya. Negara Eropa ini sedang melakukan revolusi energi yang bertujuan mengganti bahan bakar fosilnya dengan angin dan matahari.
Beberapa tahun terkahir, perkembangan EBT mengalami peningkatan pesat di seluruh negara di Dunia. Pada awalnya, penggunaan EBT sudah lebih dulu dikenal dengan banyaknya pemanfaatan hydro power atau tenaga air untuk membangkitkan listrik. Namun dalam dekade terakhir, perkembangan EBT lainnya seperti solar power (tenaga matahari), wind power (tenaga angin) bahkan biomass telah menjadi primadona untuk dikembangkan menjadi pilihan sumber energi listrik setiap negara.
Di seluruh dunia, negara-negara menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengurangi jejak ekologis yang ditinggalkan di planet ini, memperlambat perubahan iklim, dan melindungi lingkungan untuk generasi mendatang. Hal inilah yang mendorong pada pentingnya transisi untuk menggunakan EBT, bukan bahan bakar fosil.
Compare the Market, sebuah lembaga periset yang berkedudukan di London, Inggris, telah menganalisa konsumsi energi di 21 negara untuk mengungkapkan negara mana yang telah sudah banyak menggunakan sumber EBT dalam total konsumsi energinya. Dengan sumber EBT yang bervariasi mulai dari angin, matahari, air, dan bioenergi, ada semakin banyak pilihan yang lebih ramah lingkungan untuk menghasilkan energi yang digunakan setiap hari.
Dari analisas tersebut, berikut 10 negara teratas dengan presentasi konsumsi EBT tertinggi:
| Ranking | Negara | Konsumsi EBT (%) |
| 1 | Jerman | 12,74 |
| 2 | Inggris | 11,05 |
| 3 | Swedia | 10,96 |
| 4 | Spanyol | 10,17 |
| 5 | Italia | 8,80 |
| 6 | Brasil | 7,35 |
| 7 | Jepang | 5,30 |
| 8 | Turki | 5,25 |
| 9 | Australia | 4,75 |
| 10 | Amerika Serikat | 4,32 |
(Compare the Market)
Jerman merupakan negara dengan konsumsi EBT terbesar di dunia, yakni 12,74 persen dari total penggunaan energinya. Negara Eropa ini sedang melakukan revolusi energi yang bertujuan mengganti bahan bakar fosilnya dengan angin dan matahari. Kedua sumber EBT ini direkomendasikan oleh para pakar agar setiap negara untuk mengadopsinya guna menghindari bencana iklim di seluruh dunia.
Secara khusus, Jerman telah mengurangi penggunaan batubara. Selama enam bulan pertama 2019, negara itu menggunakan lebih banyak sumber EBT untuk menghasilkan listrik ketimbang batubara dan nuklir. Ini merupakan kondisi yang pertama kali bagi Jerman. Selain itu, EBT juga telah menyumbang 40 persen dari konsumsi listrik Jerman pada tahun 2018, dan kini terus dikampanyekan upaya peningkatan pemanfaatan EBT.
Sementara Inggris menempati urutan kedua dalam penggunaan EBT dengan porsi 11,05 persen dari total konsumsi. Tenaga angin mendominasi di negara itu, dan mencatat rekor baru ketika angin memberikan lebih dari 40 persen bagi sumber listriknya.
Pada tahun 2018, Inggris mengalami penurunan dramatis dalam penggunaan batubara sampai 96 persen sejak tahun 1970. Hal ini menunjukkan keinginan kuatnya untuk menggunakan sumber energi yang berbeda.
Amerika Serikat berada di peringkat 10 dengan porsi EBT kurang dari setengahnya Inggris, yakni 4,32 persen. Indonesia berada di posisi ke-16, di bawah Afrika Selatan yang tingkat penggunaan EBT 2,25 persen. Negara-negara lain dengan konsumsi sangat rendah di antaranya adalah Meksiko (1,65 persen), Korea Selatan (1,63 persen) dan Rusia (0,04 persen).
Sampai tahun 2050, International Renewable Energy Agency (IRENA) memperkirakan EBT menjadi sumber energi mayoritas yakni 86 persen dari total konsumsi.


























