PLTP Muara Laboh 85 MW di Muara Laboh, Solok Selatan, Sumatera Barat.

Jakarta, Petrominer – Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Muara Laboh mulai beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date/COD), Senin (16/12). Untuk fase 1, pembangkit listrik ini memproduksi energi listrik net 85 megawatt (MW).

Proyek pengembangan energi panasbumi ini, yang berlokasi di Solok Selatan, Sumatera Barat, dikembangkan oleh PT Supreme Energy Muara Laboh yang merupakan usaha patungan antara PT Supreme Energy, Engie dari Perancis dan Sumitomo Corp. dari Jepang.

Bagi Engie, pembangkit listrik ini merupakan PLTP pertamanya di dunia yang sudah beroperasi secara komersil. Ini juga menjadi proyek energi terbarukan pertama yang beroperasi setelah 60 tahun berbisnis di Indonesia.

Beroperasinya PLTP Muara Laboh menjadi milestone bagi ambisi Engie dalam upaya memanfaatkan sumber energi non fosil dan ramah lingkungan. Perusahaan energi yang dahulu dikenal dengan nama GDF Suez ini telah meluncurkan program transisi nol-karbon (zero-carbon) dan pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan berkapasitas total 9 gigawatt (GW) di seluruh dunia tahun 2021.

“Keberhasilan Engie dalam mewujudkan proyek panasbumi Muara Laboh ini sejalan dengan ambisi Grup usaha kami untuk mempercepat transisi nol-karbon dan pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan dengan kapasitas 9 GW di seluruh dunia pada tahun 2021,” kata President and CEO ENGIE Asia-Pasifik, Paul Maguire.

Paul menjelaskan, proyek pembangkit fase pertama ini menghasilkan energi listrik terbarukan dan bebas emisi sebesar 85 MW atau setara dengan konsumsi listrik bagi sekitar 340.000 rumah tangga di Indonesia. Listrik tersebut dijual ke PT PLN (Persero) berdasarkan Perjanjian Jual Beli Listrik (Power Purchase Agreement) selama 30 tahun.

Melalui proyek PLTP Muara Laboh ini, jelasnya, Engie juga ikut berkontribusi terhadap target Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan pangsa energi terbarukan dalam bauran energi nasional menjadi 31 persen pada tahun 2050.

“Kami senang bahwa melalui proyek ini, kami berkontribusi pada target ambisius yang telah ditetapkan Pemerintah Indonesia,” tegas Paul.

Sementara Country Manager ENGIE Indonesia, David Cullerier, mengatakan, “Engie bangga memiliki mitra yang sepaham dan berpengetahuan lokal seperti PT Supreme Energy, dan Sumitomo Corporation yang bergabung dengan kami dalam upaya menempatkan perusahaan Indonesia di jalan menuju keberlanjutan.”

David menyatakan yakin, keberhasilan di Muara Laboh ini akan membuka jalan bagi Engie untuk mencatatakan prestasi serupa dalam pengembangan sumber energi terbarukan lainnya, seperti angin, matahari, hidro dan biogas. Hal ini sejalan dengan tujuan Pemerintah Indonesia dan PLN untuk mengurangi emisi.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa Proyek PLTP Muara Laboh telah memenuhi standar lingkungan dan sosial tertinggi yang ditetapkan oleh pemberi pinjaman seperti Asian Development Bank (ADB) dan Japan Bank for International Cooperation (JBIC). Apalagi, selama masa konstruksi yang dimulai tahun 2017, proyek ini telah menyediakan lapangan kerja bagi 1.200 orang dan mendukung bisnis lokal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here