Anjungan minyak lepas pantai di Ujung Pangkah, Jawa Timur, yang dioperasikan oleh Saka Energi Indonesia (anak usaha PGN).

Jakarta — Untuk mengatasi kesenjangan kebutuhan energi nasional melalui cadangan minyak dan gas bumi (migas), maka sudah seharusnya antara produksi dan konsumsi harus terjadi keseimbangan. Selain itu, teknologi dan investasi juga sepantasnya ada untuk mendukung proses eksplorasi guna mencapai penemuan lapangan migas yang besar.

Merujuk data dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), cadangan migas signifikan yang terakhir ditemukan di Indonesia adalah di Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu pada tahun 2000 lalu.

Sebelumnya, tepatnya 30 tahun lalu, cadangan migas signifikan lainnya ditemukan di Lapangan Handil, Blok Mahakam. Artinya, dalam kurun waktu tersebut eksplorasi hanya berhasil menemukan deposit cadangan migas yang kecil. Dampaknya, cadangan migas nasional terus merosot.

Berdasarkan catatan BP Statistical Review, penurunan cadangan minyak Indonesia cukup signifikan. Pada tahun 1995 cadangan minyak Indonesia ada di angka 5 miliar barel. Namun 10 tahun kemudian atau pada tahun 2005, cadangan minyak Indonesia susut menjadi 4,2 miliar barel.

Menurut SKK Migas, per 31 Desember 2016 cadangan migas Indonesia terbukti menyisahkan 3,3 miliar barel untuk minyak dan 101,2 triliun kaki kubik (TCF) untuk gas. Data tersebut diperoleh dari data Ditjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Jika dihitung per hari, produksi minyak nasional hanya sekitar 829 ribu barel per hari. Padahal, jumlah konsumsi minyak per hari mencapai 1,6 juta barel.

Melihat fenomena ini, artinya tantangan Indonesia selanjutnya adalah terus mencari cadangan migas. Namun tantangan itu agaknya semakin berat, sebab cadangan migas yang bisa dieksplorasi kebanyakan berada di kawasan laut dalam. Selain itu, wilayah timur Indonesia pun masih jarang dieksplorasi.

Persoalannya, eksplorasi sumber migas di kawasan laut dalam dan Indonesia bagian timur memerlukan usaha keras. Sehingga, diperlukan teknologi yang mumpuni serta biaya yang mencukupi.

Soal biaya, eksplorasi sumber baru migas masih bertumpu harapan pada investasi. Maka, kehadiran investor menjadi sangat penting dalam situasi ini.

Untuk menarik dana investasi ke sektor migas, SKK Migas berkomitmen mempercepat persetujuan hal-hal yang berada di bawah kewenangannya. SKK Migas juga terus bersinergi dengan pemangku kepentingan di luar industri hulu migas. Saat ini SKK Migas telah memiliki 29 nota kesepahaman untuk bekerja sama dengan TNI, Polri, Kementerian, BUMN, dan Perguruan Tinggi untuk mendukung kegiatan operasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama.

Di luar upaya tersebut, pemerintah dan masyarakat perlu menciptakan iklim yang kondusif untuk berinvestasi. Para investor membutuhkan regulasi yang jelas, kerja birokrasi yang cepat dan profesional, lingkungan aman dari risiko pencurian, perizinan yang jelas, dan dukungan masyarakat sekitar wilayah operasi kegiatan hulu migas.

Lantas, kira-kira cadangan migas yang dimiliki Indonesia saat ini bisa bertahan sampai berapa lama? Akankah Indonesia kehabisan energi? Ketahui jawabannya di Migas Indonesia Apa Adanya. (Adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here