Jerman akan tetap pada jalurnya meninggalkan batubara dan mencapai bauran energi terbarukan hingga 80 persen di tahun 2030.

Berlin, Petrominer – Konflik antara Rusia dan Ukraina telah mengakibatkan krisis energi di Eropa. Baru-baru ini, Jerman diberitakan menaikan lagi konsumsi batubaranya karena kenaikan permintaan listrik akibat memasuki musim dingin. Kondisi itu dipicu oleh adanya pemotongan suplai gas dari Rusia melalui pipa Nord Stream 1 sebesar 40 persen.

Sejumlah ahli menyatakan kondisi itu bersifat sementara. Pasalnya, Jerman komitmen untuk tetap pada jalurnya meninggalkan batubara dan mencapai bauran energi terbarukan hingga 80 persen di tahun 2030.

Namun, Pemerintah Jerman diketahui sedang menyiapkan draf UU Pemeliharaan Pembangkit Listrik Pengganti. Tentunya, hal ini membuat sebagian kalangan kebingungan. UU itu telah disahkan melalui kabinet pada 8 Juni 2022 dan akan dilakukan pemungutan suara di parlemen pada 8 Juli mendatang.

Gagasan undang-undang tersebut adalah untuk mengganti cadangan gas dengan pembangkit listrik yang ada (yaitu batubara) untuk jangka waktu terbatas hingga 31 Maret 2024. Jerman memperluas pasokan listrik batubara kritisnya dari 6 giga watt (GW) menjadi 10 GW pada waktunya untuk musim dingin.

Christoph Bals, Direktur Kebijakan dari organisasi think tank, Germanwatch, mengatakan tidak tampak keraguan sama sekali bagi Pemerintah Jerman saat ini untuk segera meninggalkan batubara sesuai dengan UU.

“Pemerintah Jerman hanya berpikir bahwa cadangan untuk 2-3 tahun ke depan dalam situasi Jerman memiliki kekurangan pasokan gas yang ekstrem dan musim dingin yang sangat dingin, pembangkit listrik tenaga batu bara itu akan digunakan untuk sementara. Tetapi tidak ada rencana sama sekali di pemerintah saat ini untuk meragukan kebijakan phase out dari batubara,” kata Bals dalam pernyataan tertulis yang diterima PETROMINER, Sabtu (25/6).

Dave Jones, Analis Utama dari lembaga think tank Ember yang berbasis di Inggris, menerangkan bahwa era baru energi bersih listrik bersih 100 persen akan datang lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun. Namun, dia mengakui bakal ada sedikit peningkatan pembangkit listrik tenaga batubara dalam jangka pendek jika Putin terus memotong gas Eropa.

“Eropa sekarang sedang mencari cara untuk secara cepat mengurangi pembangkit listrik tenaga gas dan masih berkomitmen untuk menghentikan tenaga batubara secara bertahap. Malahan, sebagian besar negara di Eropa menggandakan transisi energi listrik mereka, dengan pembangunan baru dan sangat ambisius yang ditetapkan dekade ini untuk pembangkit tenaga angin dan matahari, yang tidak diragukan lagi akan menghasilkan penurunan emisi CO2 lebih cepat,” ujar Jones.

Sementara Ysanne Choksey, Penasihat Kebijakan di E3G Berlin, menyampaikan bahwa pengalaman Jerman ini harus menjadi contoh bahwa negara-negara hanya dapat melakukan transisi bauran energi mereka dari bahan bakar fosil jika persiapan yang diperlukan sudah dilakukan sebelumnya.

“Draf undang-undang tersebut sangat disayangkan dan sepenuhnya karena situasi luar biasa yang membuat Jerman sangat bergantung pada gas Rusia. Tiga bulan kehilangan kesempatan untuk mendorong industri melakukan penghematan energi besar-besaran setara dengan hilangnya investasi dalam energi terbarukan dan efisiensi energi dalam satu dekade. Hasilnya adalah pemerintah membuat keputusan di belakang. Saya menyambut baik pengulangan bahwa tanggal penghapusan 2030 tidak akan terpengaruh,” ujar Choksey.

Hans-Josef Fell, Presiden Energy Watch Group, berpendapat bahwa kebijakan Pemerintah Jerman untuk mengurangi pasokan gas dari Rusia patut diapresiasi karena dengan begitu Jerman akhirnya bisa mengambil langkah strategis menghentikan pembiayaan perang Rusia melalui pembelian gas yang sudah lama tertunda.

Di sisi lain, pada musim panas nanti, Pemerintah Jerman bakal menerapkan model lelang gas, yang akan menetapkan insentif bagi konsumen industri untuk mengurangi konsumsi gas mereka serupa dengan skema yang sudah ada di pasar listrik. Ini umumnya disebut skema pengurangan sisi permintaan dimana perusahaan akan dibayar “remunerasi berdasarkan harga tenaga kerja” untuk tidak mengkonsumsi gas.

Sebelumnya Menteri Ekonomi Jerman, Robert Habeck, mengatakan situasi tegang dan tingginya harga ini sebagai dampak langsung dari agresi Putin terhadap Ukraina.

“Ini jelas merupakan strategi Putin untuk memecah belah kita sekaligus menaikan harga, karena itu kami tidak akan biarkan hal tersebut, dan kami secara tegas dan bijaksana akan membela diri. Untuk itu, sementara waktu harus menggunakan pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Tentu ini berat, tetapi situasi ini sangat diperlukan agar kemudian bisa mengurangi konsumsi gas,” kata Habeck.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here