Surabaya, Petrominer – Sampah kerap menjadi masalah bagi masyarakat. Apalagi bagi mereka yang tinggal di pinggiran sungai maupun pesisir laut. Namun tumpukan sampah justru bisa menjadi berkah jika bisa dikelola dengan baik.
Seperti yang dialami oleh masyarakat yang tinggal di Kelurahan Gunung Anyar Tambak, Kecamatan Gunung Anyar, Surabaya. Beberapa tahun lalu, wilayah yang berada di muara sungai ini sering menghadapi masalah sampah. Wilayah muara menjadi tempat berakumulasinya sampah-sampah yang dibuang ke sungai. Aliran air membawa barang-barang yang dianggap tak berharga tersebut menuju ke laut.
Saat sungai surut, sampah-sampah tersebut mengendap di pinggiran sungai dan di sela pohon bakau (mangrove) yang tumbuh subur di wilayah tersebut. Selain membuat kondisi lingkungan menjadi tak nyaman, tumpukan sampah membuat wilayah di perbatasan Surabaya-Sidoarjo ini menjadi kumuh.
Padahal, saat itu wilayah tersebut sering didatangi oleh banyak tamu dari berbagai lembaga pemerintah serta korporasi karena ditetapkan sebagai lokasi proyek penanaman mangrove oleh Pemkot Surabaya. Karena itulah, wilayah itu tidak selayaknya kumuh.
Adalah Bu Kusni, seorang warga Gunung Anyar Tambak yang merasa prihatin dengan kondisi tersebut. Dia ingin sekali menggerakkan warga untuk membersihkan lingkungan di sekitar muara agar lingkungan menjadi bersih dan nyaman.
“Namun terus terang, untuk menggerakkan warga agar mau membersihkan sampah di sungai dan perairan sekitar muara sangatlah susah. Mereka harus mencari nafkah, sedangkan kalau kerja bakti mereka tidak mendapatkan apa-apa,” jelasnya saat berbincang dengan para jurnalis, Senin (19/2).
Bank Sampah
Beragam cara pun dilakukan. Salah satunya adalah meminta saran kepada PT PLN (Persero) untuk mengatasi permasalahan tersebut. Apalagi, PLN merupakan salah satu institusi yang aktif melakukan program penanaman mangrove di wilayah tersebut.
Gayung pun bersambut. Melalui PLN Distribusi Jawa Timur, BUMN ini menyatakan siap membantu menyelesaikan masalah sampah tersebut. Disulkanlah agar dibentuk Bank Sampah, di mana masyarakat bisa mengumpulkan sampah dan disetorkan ke Bank Sampah. Tentunya, ada imbalan atas setoran sampah tersebut.
Pada April 2012, Bank Sampah di Gunung Anyar Tambak mulai beroperasi. Sebagai modal awal, lembaga desa ini mendapatkan bantuan dari desa sebesar Rp 400.000.
Tak disangka, masyarakat cukup antusias untuk menyetorkan sampah ke bank sampah yang bernama “Bintang Mangrove”. Tak hanya sampah domestik, warga sekitar juga berinisiatif mengumpulkan sampah-sampah dari muara sungai, bahkan hingga ke laut.
Antusiasme masyarakat untuk mengumpulkan sampah memaksa para pengurus Bintang Mangrove memutar otak untuk mencari tambahan pendanaan. Lagi-lagi, pilihannya adalah PLN. Setelah meyakinkan BUMN ini bahwa program bank sampah telah berjalan, BUMN kelistrikan ini memberikan bantuan modal sebesar Rp 10 juta, perahu, serta sepeda motor roda tiga untuk mengangkut sampah.
Dengan tambahan modal tersebut, bank sampah Bintang Mangrove mampu meningkatkan serapan sampah dari masyarakat sekitar serta menjualnya dalam kuantitas yang lebih besar lagi.
Melihat perkembangan ini, Tim CSR PLN Disjatim merasa perlu untuk terus meningkatkan dan mengembangkan bank sampah. Diluncurkanlah program PPOB “Bayar Listrik dengan Sampah” yang telah optimal tahun 2012. Setahun kemudian, diadakan penambahan titik PPOB sebanyak 20 titik dan upaya monitoring omzet PPOB secara online.
Hingga saat ini sudah ada 218 nasabah bank sampah yang secara aktif menyetorkan sampah mereka. Saat ini, bank sampah telah beroperasi secara penuh. Uang yang diputar melalui bank sampah ini mencapai Rp 9 juta hingga Rp 12 juta per bulan.
Kesuksesan ini yang kemudian membuat Bintang Mangrove menjadi pilihan studi banding sejumlah tamu dari mancanegara untuk mengetahui metode peningkatkan taraf ekonomi masyarakat di kawasan pesisir.
“Kami sampai dikunjungi oleh para tamu dari berbagai negara di ASEAN untuk melihat keberhasilan pengelolaan sampah di pesisir,” kata Bu Kusni.
Dia mengaku tak bisa mengambil untung besar dari sampah yang dijual ke pengepul. Alasannya, agar tidak menimbulkan kesenjangan antara bank sampah dengan nasabah yang menyetorkan sampah,
Dia sering melihat, bagaimana susahnya nelayan sekitar yang harus berjuang untuk memungut sampah di laut dan di sela-sela tanaman bakau.
“Yang penting menjalankan program bank sampah ini kuncinya iklas. Meski keuntungannya kecil atau bahkan tidak ada sama sekali, alhamdulillah seluruh biaya operasional tercukupi,” ujar Bu Kusni.









Tinggalkan Balasan