
Tangerang, Petrominer – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong kemitraan antara industri kecil dan menengah (IKM) pangan dengan industri besar. Langkah ini diambil untuk memperkuat rantai pasok nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah produk berbasis sumber daya lokal.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong IKM mengembangkan produk antara (intermediate product). Produk jenis ini dinilai memiliki potensi nilai tambah lebih tinggi, masa simpan lebih panjang, serta peluang pasar business to business (B2B) yang lebih luas dan berkelanjutan. Pengembangannya juga dapat mengurangi limbah pangan (food waste) dan menjadi bahan baku bagi inovasi produk hilir.
Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui penyelenggaraan Indonesia Food Innovation (IFI) 2026 yang berkolaborasi dengan pameran Krista InterFood 2026 di NICE PIK 2, Tangerang. Selain menampilkan produk unggulan IKM pangan, kegiatan ini juga menghadirkan talkshow bertema “Kemitraan IKM dan Industri Besar: Memperkuat Rantai Pasok Pangan.”
Forum tersebut mempertemukan pelaku IKM, asosiasi industri, penyelenggara pameran, dan pemerintah untuk membahas peluang serta tantangan dalam membangun kemitraan yang berkelanjutan.
Salah satu peserta IFI 2023 kategori Intermediate Product, Eko Pratama dari PT Rasaprima Sukses Makmur, membagikan pengalamannya selama mengikuti program pendampingan tersebut. Menurut Eko, IFI membantu IKM meningkatkan kualitas produk, kapasitas produksi, manajemen usaha, dan daya saing agar mampu memenuhi kebutuhan pasar.
“Sejak tahun 2024 sampai 2026, perusahaannya mengalami kenaikan produksi dan juga permintaan, sehingga diperkirakan dalam satu tahun saja, produksinya mencapai 500 ton,” ungkapnya saat berdialog dengan Indra Akbar Dilana, Pembina Industri Ahli Madya sekaligus Ketua Tim IKM Makanan, Ditjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Kamis (5/11).
Rasaprima Sukses Makmur memproduksi berbagai bumbu siap saji yang kini dipasok ke sejumlah usaha hotel, restoran, dan kafe (horeka). Selain melalui pameran untuk mempertemukan produsen dengan calon pembeli, keikutsertaan dalam IFI juga membuka peluang bagi IKM untuk meningkatkan sertifikasi produk dan memperluas jaringan kemitraan.
Sementara itu, Indra menjelaskan bahwa Kemenperin juga mendorong IKM menjalin hubungan dengan asosiasi industri pangan, seperti Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) serta Asosiasi Pengusaha Roti, Biskuit dan Mie (Arobim). Melalui asosiasi, IKM berpeluang mengikuti temu bisnis dan membangun kerja sama dengan industri yang membutuhkan produk antara.
Menurutnya, kemitraan tersebut dapat memperluas akses komunikasi dan pasar bagi IKM. Namun, calon mitra juga perlu memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain kualitas dan konsistensi produk, kapasitas produksi, standar keamanan pangan, kontinuitas pasokan, serta profesionalisme pengelolaan usaha.
Penguatan kemitraan IKM dan industri besar menjadi penting karena industri pangan merupakan salah satu sektor manufaktur strategis yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional dan ketahanan pangan. Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan olahan serta perubahan pola konsumsi masyarakat, inovasi dan peningkatan nilai tambah produk menjadi faktor penting untuk memperkuat daya saing industri pangan Indonesia.








Tinggalkan Balasan