Salah satu acara sosialisasi penggunaan kompor induksi oleh PT PLN (Persero) untuk mengoptimalkan penggunaan listrik.

Jakarta, Petrominer – Konsumen mempunyai pilihan dalam mengomsumsi energi, berbasis migas atau listrik. Energi listrik menjadi pilihan menarik, dari segi teknologi maupun kepraktisan. Sementara energi listrik, bisa mendapat manfaat langsung karena termasuk energi bersih (clean energy).

Namun pengalihan pola konsumsi energi masyarakat tergantung dua hal, yakni aspek ketersediaan dan keterjangkauan. Selama kedua aspek tersebut terpenuhi, konsumen tidak mempermasalahkan, apakah menggunakan energi berbasis migas ataupun listrik, tergantung mana yang lebih mudah diakses.

“Saat ini, konsumen belum berpikir apakah energinya bersumber dari batubara, migas, atau bagian dari energi baru terbarukan (EBT). Yang penting, energinya harus tersedia dan terjangkau,” jelas pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, Jumat (1/3).

Menurut Fahmy, akan ada sejumlah manfaat yang diperoleh masyarakat, apabila nantinya terjadi pengalihan pola konsumsi. Misalnya saat terjadi migrasi ke mobil listrik. Manfaat langsung yang dirasakan terutama karena yang digunakan energi listrik, termasuk energi bersih.

Ini dimungkinkan, mengingat ada sebagian masyarakat yang mulai sadar lingkungan. Maka di sini energi listrik menjadi pilihan, seperti halnya mobil listrik dan kompor listrik (induksi).

“Ke depan, pengalihan pola konsumsi energi masyarakat ke listrik akan terjadi, namun yang terpenting, kembali dua hal itu harus ada, yakni terkait ketersediaan dan keterjangkauan,” paparnya.

Perubahan memang tidak bisa terjadi secara total dan cepat, melainkan secara bertahap. Namun dengan adanya perpindahan pola konsumsi energi, akan terjadi penghematan.

Jadi pemerintah memberikan subsidi solar, lalu subsidinya dialihkan kepada mobil listrik, otomatis akan mengurangi subsidi solar. Juga, terjadi penghematan beban energi yang ditanggung APBN. Selain itu, impor BBM akan jauh berkurang.

“Itu sebabnya pemerintah harus mendorong peralihan dari kendaraan yang menggunakan energi berbasis fuel kepada berbasis listrik, dan juga penggunaan kompor listrik (kompor induksi),” tegas Fahmy

Pakar ketenagalistrikan dan Guru Besar FT-UI Iwa Garniwa mengemukakan hal senada. Penggunaan kompor listrik untuk memasak, manfaatnya lebih bersih (ramah lingkungan), dibandingkan menggunakan energi migas. Karena migas masih membakar dan menghasilkan emisi. Sementara pembangkit listrik yang ada saat ini, adalah PLTU yang lebih sedikit menggunakan batu bara dan sangat minim emisi yang diakibatkan.

Namun ditinjau dari segi harga, apakah listrik lebih murah dengan harga yang ada sekarang, Iwa tidak bisa menjawab secara pasti.

“Jika pemerintah memutuskan, menaikkan atau menurunkan harga migas, bisa jadi harganya lebih mahal atau murah. Perbandingannya, antara memasak menggunakan bahan bakar migas atau listrik. Jadi penetapan harga itu relatif sifatnya,” papar Anggota Panitia Akreditasi Ketenagalistrikan, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini.

Salah satu acara sosialisasi penggunaan kompor induksi oleh PT PLN (Persero) untuk mengoptimalkan penggunaan listrik.

Konversi Konsumsi Jadi Pilihan

Secara terpisah, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, mengemukakan, penggunaan sejumlah perlengkapan berbasis listrik mulai dari kompor listrik, mobil dan motor listrik akan menjadikan konsumen memiliki pilihan dalam komoditas energi.

“Artinya apabila tersedia semakin banyak pilihan energi yang disediakan oleh negara, maka akan semakin efisien. Selain itu, dengan dengan adanya mobil listrik atau motor listrik, dari segi polusi, bisa menekan pengeluaran dari sisi bahan bakar,” jelasnya.

Karena itu, YLKI kembali menekankan bagi masyarakat konsumen agar mengubah pola hidup menjadi lebih banyak menggunakan energi listrik dibandingkan sumber energi lainnya seperti migas, akan tergantung pada harga yang ditawarkan.

Menurut Tulus, jika harga jual tenaga listrik yang ditawarkan lebih murah, masyarakat memilki alternatif pilihan. Namun sebaliknya, kalau penawaran harganya mahal, akan sulit bagi masyarakat beralih pada listrik.

Sementara Executive Vice President Corporate Communication and CSR PT PLN (Persero), I Made Suprateka, mengemukakan bahwa pada akhirnya semua harus sepakat untuk mempertajam berbagai sumber alam yang dapat berkontribusi memperkuat ekonomi Indonesia, sekaligus berarti meminimalisir berbagai hal, terutama pada pos-pos pengeluaran belanja negara, yang memiliki fungsi substistusi bersumber dari dalam negeri.

“Dengan demikian, kita dapat melakukan bauran energi yang paling ekonomis, untuk menghasilkan sumber listrik yang sustain, baik dalam hal kapasitas, ketersediaan dan juga harganya,” ujar Made.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here