, ,

Mengenal Infrastruktur Terintegrasi RDMP Balikpapan

Posted by

Balikpapan, Petrominer – Pembangunan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan telah selesai. Operasional Proyek Strategis Nasional (PSN) yang memiliki infrastruktur energi terintegrasi ini diresmikan Presiden Prabowo Subianto, Senin (12/1).

Bukan sekadar meningkatkan kapasitas, proyek ini adalah sebuah ekosistem energi canggih yang dirancang PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) melalui anak usahanya, PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), untuk mewujudkan swasembada energi nasional.

Baca: Presiden Prabowo Resmikan RDMP Kilang Balikpapan

VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menyampaikan bahwa RDMP Balikpapan bukan hanya tentang membangun kilang, tapi juga tentang membangun kedaulatan. Dengan infrastruktur yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, Pertamina memastikan energi yang dikonsumsi masyarakat adalah hasil keringat bangsa sendiri.

Untuk memahami bagaimana infrastruktur ini bekerja, Baron menggambarkannya sebagai  sebuah Dapur Raksasa yang Modern. Sebuah dapur tidak hanya butuh kompor, tapi juga butuh pipa kokoh untuk mengalirkan gas yang stabil, gudang penyimpanan bahan baku yang luas, hingga sistem distribusi masakan yang efisien.

Agar bisa memasak minyak mentah dengan lebih efisien, kilang membutuhkan energi panas yang besar. Pipa Gas Senipah-Balikpapan sepanjang 78 km berfungsi sebagai “selang gas” yang mengalirkan energi ke dalam kilang. Dengan kapasitas alir 125 MMSCFD, infrastruktur ini memastikan “kompor” kilang tetap menyala stabil untuk mengolah minyak tanpa henti.  

Sebelum dimasak, bahan baku (minyak mentah) harus didatangkan dan disimpan. Di perairan Kabupaten Penajam Paser Utara, Pertamina membangun infrastruktur penerimaan minyak mentah, sebuah dermaga terapung yang  kokoh sebagai sarana tambat di tengah laut atau Single Point Mooring (SPM) berkapasitas 320.000 Dead Weight Ton (DWT) yang mampu menerima Very Large Crude Carrier (VLCC), yakni kapal pengangkut minyak mentah berukuran raksasa.

Masih dari Lawe-Lawe, Pertamina juga membangun dua tangki raksasa dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel sebagai “gudang” bahan baku. Dua tangki tersebut menambah total cadangan penyimpanan menjadi 7,6 juta barel.

“Ini ibarat memiliki gudang bahan makanan yang sangat besar, sehingga stok “masakan” untuk nasional selalu aman. Tangki dan SPM Lawe-Lawe dihubungkan melalui pipa sepanjang sekitar 20 kilometer yang membentang di darat dan bawah laut,” ungkap Baron.

Selanjutnya, meracik bahan baku menjadi hidangan menarik adalah tugas dari koki. Inilah peran fasilitas Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). 

Dengan kapasitas yang ditingkatkan menjadi 360 ribu barel minyak per hari, CDU sebagai jantung dari Kilang Balikpapan kini bisa mengolah minyak lebih banyak dari sebelumnya yang hanya 260 ribu barel. Sementara unit RFCC bertindak sebagai “koki ahli” yang mampu mengubah residu sisa olahan menjadi produk yang bernilai tinggi.

Setelah BBM selesai diproduksi, selanjutnya akan dikirimkan ke masyarakat. Terminal BBM Tanjung Batu dengan kapasitas 125 ribu KL berfungsi sebagai salah satu titik distribusi “masakan” yang dihasilkan dari Kilang Balikpapan.

Menurut Baron, seluruh infrastruktur di atas saling menunjang satu dengan yang lain. Tanpa pipa gas, kilang tidak efisien. Tanpa sarana tambat Lawe-Lawe, kilang tidak bisa menerima bahan baku dalam jumlah besar. Tanpa tangki raksasa, cadangan bahan baku akan menjadi terbatas.

“Keharmonisan sistem ini memberikan dampak nyata berupa pengurangan impor BBM, yang juga akan memberikan manfaat pada penghematan devisa dan mendukung swasembada energi nasional,” paparnya.

Terminal BBM Tanjung Batu dengan kapasitas 125 ribu KL sebagai titik distribusi BBM yang dihasilkan dari Kilang Balikpapan.

Modernisasi Kilang

Lebih lanjut, Baron menjelaskan bahwa fasilitas RFCC Complex menjadi elemen kunci dalam Proyek RDMP Balikpapan. Ini sekaligus menandai lompatan besar modernisasi Kilang Pertamina menuju standar kilang kelas dunia yang efisien, bernilai tambah tinggi, dan ramah lingkungan.

Sebagai unit pengolahan utama, RFCC Complex dirancang untuk mengoptimalkan pengolahan residu minyak menjadi produk bahan bakar dan petrokimia bernilai tinggi. Kehadiran fasilitas ini menjadikan Kilang Balikpapan mampu memproduksi bahan bakar berkualitas tinggi setara standar Euro 5, yang lebih bersih dan rendah emisi, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Selain itu, Kilang Balikpapan juga dapat memproduksi produk petrokimia propylene dan sulfur.

“RFCC Complex menjadi tulang punggung operasional Kilang Balikpapan dalam mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih,” paparnya.

Melalui RFCC Complex dan unit tambahan lainnya, Kilang Balikpapan mengalami peningkatan signifikan dari standar Euro 2 dengan kandungan sulfur 2.500 ppm menjadi standar Euro 5 dengan kandungan sulfur hanya 10 ppm. Selain itu, Kilang Balikpapan akan mampu menghasilkan produk petrokimia. 

Proyek RDMP Balikpapan merupakan proyek modernisasi kilang terbesar di Indonesia. Dengan beroperasinya RFCC Complex, Kilang Balikpapan tidak hanya memproduksi bensin dan solar, tetapi juga mampu menambah produksi LPG serta menghasilkan produk petrokimia yang sebelumnya belum dapat dihasilkan di kilang ini.

Selain meningkatkan diversifikasi produk, RFCC Complex juga memungkinkan pengolahan minyak residu yang sebelumnya sulit diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene. Inovasi ini meningkatkan nilai ekonomi kilang sekaligus memperluas kontribusi Kilang Balikpapan dalam rantai industri energi dan petrokimia nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *