VP CSR & SMEPP PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, saat melihat panen madu lebah Trigona dan merasakan langsung madu dari sarangnya.

Bengkalis, Petrominer – “Segar…, tidak terlalu manis,” ujar Arya Dwi Paramita, VP CSR & SMEPP PT Pertamina (Persero), usai menyesap madu lebah Trigona langsung dari sarangnya.

Arya melihat langsung panen madu tersebut saat mengunjungi Kelompok Budidaya Madu Biene di Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Riau. Kelompok ini merupakan binaan Kilang Pertamina Unit Produksi Sei Pakning, melalui Program Budidaya Madu Hutan Gambut.

Menurutnya, kegiatan pembinaan budidaya lebah madu ini sebagai salah satu bentuk komitmen Pertamina dalam mendukung tercapainya SDGs ke-8, yakni mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, produktif dan pekerjaan yang layak.

“Yang paling penting bahwa budidaya lebah madu ramah lingkungan ini telah membangun kepedulian masyarakat untuk merawat dan melestarikan lingkungan melalui pencegahan kebakaran di lahan gambut,” ungkap Arya.

Budidaya lebah madu jenis Apis Cerana, Apis Dorsata dan Trigona banyak dikembangkan di Desa Tanjung Leban. Ada beberapa kelompok membudidayakan lebah madu ini, yang kini cukup diminati.

Lebah Trigona berwarna hitam, berukuran kecil sekitar 4 milimeter dan tidak menyengat. Biasanya bersarang pada lubang pepohonan, membentuk sarang berbentuk bulat-bulat kecil menyerupai gentong berdiameter 1 cm. Dari sarang berbentuk gentong tersebut, madu bisa “disesap” dengan menggunakan sedotan.

Rahmadi (27 tahun) menjelaskan bahwa madu Trigona merupakan produk unggula kelompoknya. “Per kati atau sebotol kecap kaca, kira-kira 650 mili harganya dua ratus lima puluh ribu rupiah,” jelasnya.

Madu lebah Trigona, Apis Cerana, dan Apis Dorsata juga dikenal sebagai pendukung imunitas tubuh, dan banyak dicari selama pandemi Covid-19.

“Awal Covid-19 tahun lalu, permintaan madu tidak hanya dari Bengkalis dan Pekanbaru saja, bahkan dari luar daerah. Kalau dihitung selama tahuan 2020 lalu, kelompok bisa mendapatkan penghasilan hingga 244 juta,” kata Rahmadi, yang menjabat Ketua Kelompok Madu Biene, Desa Tanjung Leban.

Rahmadi dan kelompoknya membudidayakan lebah madu di sekitar rumah. Kotak tempat sarang lebah diletakkan di atas bangku kecil di halaman rumah. Dengan begitu, mereka tidak perlu repot-repot berburu madu ke hutan.

“Dulu kami biasa mencari madu di hutan dengan sistem pengasapan. Pengasapan menggunakan sabut kelapa atau daun kelapa kering yang dibakar, untuk menghalau lebah, dan dipanen madunya. Karena kebiasaan tersebut, kami para pencari madu selalu dijadikan kambing hitam penyebab kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Riau,” kata Rahmadi.

Namun setelah adanya pendampingan dari Kilang Pertamina Unit Produksi Sei Pakning, melalui Program Budidaya Madu Hutan Gambut, ‘cap’ sebagai penyebab kebakaran mulai hilang. Melalui program tersebut, Rahmadi dan teman-temannya yang tergabung dalam Kelompok Madu Biene diajarkan mengembangkan budidaya madu hutan, dari hulu ke hilir.

Area Manager Communication, Relations & CSR RU wilayah Dumai PT Pertamina Kilang Internasional, Imam Rismanto, bahwa menjelaskan program budidaya madu yang dirintis sejak tahun 2019 diawali dengan edukasi dan penyuluhan terkait wawasan lingkungan dan panen madu tanpa bakar.

“Awalnya warga masih awam akan hal tersebut, namun lambat laun mulai menunjukkan minat setelah diberikan pelatihan budidaya lebah madu yang bisa dilakukan di sekitar rumah mereka sendiri tanpa harus ke hutan. Tahun ini kami juga menambahkan pelatihan bagi warga untuk mengembangkan budidaya lebah madu jenis mellifera,” jelas Imam.

Keberhasilan Rahmadi dan anggota kelomponya telah mendorong minat warga lain untuk belajar budidaya madu. Setidaknya ada 50 orang dari desa Tanjung Leban dan 60 dari luar desa yang telah berbagi ilmu budidaya lebah madu.

“Sekarang kami menjadi pionir dalam kegiatan budidaya madu hutan gambut di kawasan Kecamatan Bandar Laksamana, melalui penerapan budidaya dan pemanenan yang berorientasi ramah lingkungan,” kata Rahmadi.

Produk Madu diberi merek Biene dijual dalam bentuk curah maupun kemasan. Madu curah biasa dikirim ke Pekanbaru. Sementara produk kemasan 225 ml dijual di kisaran Rp 65 ribu – Rp 75 ribu, secara online di marketplace dengan pembeli beragam dari seluruh Indonesia. Produk sudah mendapatkan izin PIRT (Pangan, Industri Rumah Tangga) dan sertifikasi halal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here