PLN akan membangun pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) dengan memanfaatkan bendungan eksisting yang dibangun oleh Kementerian PUPR.

Jakarta, Petrominer – Sebagai bentuk transisi energi dengan mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), PLN akan membangun tiga Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro/Mikrohidro (PLTM) di bendungan yang sudah ada. Pembangunan ketiga pembangkit dengan total kapasitas 8,95 megawatt (MW) itu akan menelan investasi senilai Rp 200 miliar.

“Proyek ini merupakan wujud nyata transformasi PLN melalui aspirasi Green, dengan terus meningkatkan bauran EBT dalam penyediaan listrik nasional,” ujar Executive Vice President Komunikasi Korporat dan CSR PLN, Agung Murdifi, Jum’at (18/6).

Agung menjelaskan, ketiga pembangkit tersebut adalah PLTM Batanghari di Sumatera Barat berkapasitas 5,1 MW, PLTM Titab (1,27 MW) di Bali, dan PLTM Pandanduti berkapasitas (0,58 MW) di Nusa Tenggara Barat. Semuanya memanfaatkan bendungan eksisting multifungsi milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Untuk mendukung terealisasinya proyek tersebut, PLN telah menyepakati kerja sama jual beli listrik dengan Kementerian PUPR,” ungkapnya.

Ketiga PLTM tersebut diperkirakan akan menghasilkan peningkatan bauran energi dari EBT sebesar 42 gigawatthour (GWh) per tahun. PLN menargetkan pembangkit tersebut beroperasi pada Maret 2024 mendatang. Pengembangan proyek ini melibatkan beberapa instansi yaitu Kementerian Keuangan, Kementerian PUPR, Kementerian ESDM.

“Dengan memanfaatkan bendungan eksisting dampak akhirnya tentu dapat menurunkan biaya pokok penyediaan tenaga listrik di sistem PLN setempat, sekaligus meningkatkan bauran energi EBT secara bersamaan,” jelas Agung.

Pemanfaatan bendungan multifungsi milik PUPR untuk dijadikan PLTA/PLTM/PLTMH ini akan mempercepat penambahan kapasitas dan energi dari EBT, karena waktu pembangunan relatif lebih singkat. Selain, itu pembangunan pembangkit dengan memanfaatkan bendungan membutuhkan biaya investasi yang lebih efisien dibandingkan PLTA/PLTM/PLTMH green field.

Ke depannya, ada sekitar 50 bendungan yang berpotensi untuk dimanfaatkan menjadi PLTA/PLTM/PLTMH. PLN terus mendorong sinergi dengan banyak pihak untuk terus merealisasikannya.

“Melalui program ini, kita dapat melakukan penghematan anggaran negara dengan memanfaatkan utilitas yang sudah ada dan juga membuat tingkat utilisasi aset menjadi lebih baik,” ujar Agung.

Melalui aspirasi green dalam Transformasi PLN, PLN terus mendorong transisi energi tidak hanya untuk memenuhi target bauran EBT 23 persen pada tahun 2025, tetapi untuk generasi yang akan datang bisa menikmati masa depan yang lebih baik.

Selain memanfaatkan bendungan, untuk meningkatkan bauran EBT, PLN juga memiliki program green booster seperti program cofiring atau pemanfaatan biomassa sebagai pengganti batubara untuk bahan bakar PLTU, juga program konversi PLTD ke EBT.

“Untuk dedieselisasi, ini merupakan upaya kami untuk mengurangi ketergantungan pembangkit diesel. Kita tahu solar itu harus diimpor, sehingga intinya kita mencari sumber energi yang lebih green tetapi juga tidak impor,” papar Agung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here