Yogyakarta, Petrominer – Implementasi Making Indonesia 4.0 diharapkan mampu mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil antara 1-2 persen per tahun. Dengan demikian idealnya pertumbuhan PDB per tahun akan naik dari baseline 5 persen menjadi 6-7 persen selama tahun 2018-2030.
Selain itu, angka ekspor netto akan meningkat kembali 10 persen dari PDB. Hal ini tentunya akan diikuti peningkatan produktivitas dengan adopsi teknologi dan inovasi, serta mewujudkan pembukaan lapangan kerja baru 10 juta orang pada tahun 2030.
“Ini akan menjadi tantangan bagi Indonesia, mengingat 15 tahun ke depan, negara ini akan menghadapi bonus demografi, sehingga Indonesia memasuki masa emas. Sebab kenyataan yang ada selama ini menunjukkan setelah menghadapi bonus demografi, pertumbuhan PDB negara tersebut menunjukkan penurunan,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara, pada acara Workshop Pendalaman Kebijakan Industri dengan Forum Wartawan Industri (Forwin), Kamis (30/8).
Berdasarkan data dari Kemenperin, negara Jepang yang sempat mengalami bonus demografi antara tahun 1930 sampai sebelum tahun 2000, pertumbuhan PDB nya mencapai 5,5 persen. Namun setelah melampaui masa demografi, pertumbuhan PDB nya hanya mencapai 0,9 persen.
Hal serupa juga dihadapi oleh China yang menghadapi bonus demografi antara tahun 1970 sampai 2015, pertumbuhan PDB nya 9,2 persen. Setelah masa bonus demografi turun menjadi 6,7 persen. Demikian juga nasib yang sama dialami negara tetangga Singapura yang di antara tahun 1970 sampai tahun 2015/2016 menghadapi bonus demografi, pertumbuhan PDB nya mencapai 7,3 persen, setelah masa emas demografi berakhir, pertumbuhan PDB nya turun menjadi tinggal 2 persen.
Dia juga memberi contoh kenyataan di masa menghadapi bonus demografi, Thailand periode antara tahun 1970 sampai tahun 2015/16, pertumbuhan PDB nya mencapai 5,8 persen, sedangkan setelah periode emasnya, pertumbuhan PDB negara tersebut turun menjadi 3,2 persen.
“Apakah Indonesia siap menghadapi tantangan tersebut?” tanya Ngakan.
Aspirasi besar yang ditetapkan menjadikan Indonesia masuk jajaran 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030. Untuk itu, semua pihak harus bergerak bersama, karena Making Indonesia 4.0 merupakan agenda nasional. Bahkan peta jalan tersebut diyakini dapat membangun optimisme yang positif.
“Indonesia memiliki modal besar untuk sukses menerapkan industri 4.0. Setidaknya, terdapat dua hal yang mendukung pengembangan industri di era digital, yaitu pasar yang besar dan jumlah sumber daya manusia yang produktif seiring dengan bonus demografi,” paparnya.
Untuk mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan, pada tahap awal implementasi Making Indonesia 4.0, terdapat lima sektor industri yang diprioritaskan pengembangannya untuk menjadi pionir, yakni industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, serta elektronika.
“Sektor industri prioritas itu diyakini mempunyai daya ungkit besar dalam hal penciptaan nilai tambah, perdagangan, besaran investasi, dampak terhadap industri lainnya, serta kecepatan penetrasi pasar,” ujar Ngakan.
Pada triwulan II tahun 2018, pertumbuhan industri makanan dan minuman mencapai 8,67 persen, serta industri tekstil dan pakaian jadi menembus hingga 6,39 persen. Kinerja dari sektor-sektor manufaktur ini mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Selanjutnya, sepanjang semester I-2018, industri makanan memberikan kontribusi tertinggi hingga 47,50 persen dengan nilai Rp21,9 triliun terhadap penanaman modal dalam negeri (PMDN) di sektor manufaktur, diikuti industri kimia dan farmasi dengan menyumbang 14,04 persen (Rp6,4 triliun).
Sedangkan, untuk kontribusi terhadap PMA di sektor manufaktur, industri kimia dan farmasi tercatat menyumbangkan sebesar 18,84 persen (US$ 1,1 miliar), serta industri makanan 10,41 persen (US$ 586 juta).
Selain itu Kementerian Perindustrian bersama pemangku kepentingan terkait memperkuat kolaborasi dalam upaya melakukan transformasi ke arah implementasi revolusi industri 4.0 di Indonesia. Salah satu langkah sinergi yang tengah dilaksanakan adalah melengkapi beberapa perangkat teknologi terkini yang dibutuhkan oleh sektor manufaktur nasional guna membangun konektivitas terintegrasi.
“Revolusi industri 4.0 merupakan sebuah lompatan besar di sektor manufaktur, dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara penuh. Tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga di seluruh rantai nilai agar meningkatkan kualitas dan efisiensi dalam proses produksi,” kata Ngakan.
Menurutnya, banyak negara mulai menata sektor industrinya supaya mampu menopang kegiatan perekonomiannya secara menyeluruh. Mereka telah menyiapkan diri untuk penerapan revolusi industri 4.0, antara lain melalui konektivitas yang kuat.
Selain itu, melalui peta jalan Making Indonesia 4.0 yang telah diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo pada April 208 lalu, pemerintah dan stakeholders telah memiliki pemahaman yang sama dan arah yang jelas dalam memacu pertumbuhan dan daya saing industri nasional di kancah global.
Oleh karena itu, industri nasional perlu melakukan pembenahan, terutama pada aspek penguasaan teknologi digital yang menjadi kunci utama untuk penentu daya saing dan peningkatan produktivitas di era industri 4.0. “Misalnya, pemanfaatan teknologi Internet of Things, Big Data, Cloud Computing, Artificial Intellegence, Mobility, Virtual dan Augmented Reality, sistem sensor dan otomasi, serta Virtual Branding,” tegas Ngakan.








Tinggalkan Balasan