Dubai, Petrominer – Kementerian Perindustrian memeriahkan Paviliun Indonesia di Expo 2020 Dubai dengan memamerkan peta jalan Making Indonesia 4.0. Peta jalan ini diluncurkan Presiden Joko Widodo pada 4 April 2018 lalu di hadapan dunia.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menjelaskan peta jalan ini merupakan inisiatif akselerasi pembangunan industri agar Indonesia siap memasuki era industri 4.0 yang berfokus pada tujuh sektor industri. Meliputi makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, kimia, elektronika, farmasi serta alat kesehatan.
“Pemerintah optimistis aspirasi besar di dalam Making Indonesia 4.0 bisa terwujud dan menjadikan Indonesia sebagai bagian dari 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030,” ujar Agus pada Business Forum Expo 2020 Dubai yang mengangkat tema Industry of Indonesia 4.0 – Electronic and Automotive Industry, beberapa waktu lalu.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier, memaparkan bahwa Kemenperin memacu kinerja dua sektor industri yang masuk prioritas pengembangan Making Indonesia 4.0, yakni industri otomotif dan elektronika. Kedua sektor tersebut telah menerapkan industri 4.0 guna meningkatkan daya saingnya.
“Keuntungan dalam bertransformasi digital antara lain dapat meningkatkan daya saing, mengurangi cost, meningkatkan revenue, dan memiliki kesempatan untuk memperluas market secara global,” jelas Taufiek.
Indonesia adalah pasar otomotif terbesar di Asia Tenggara. Ekosistem di sektor ini telah mempekerjakan lebih dari 1,5 juta orang. Saat ini, industri otomotif Indonesia didukung oleh industri komponen tier 1, 2, dan 3 yang berperan penting terhadap produktivitasnya.
Pemerintah Indonesia fokus mengembangkan industri kendaraan listrik. Sudah ada beberapa peraturan dan kebijakan yang diterbitkan dalam memberikan kemudahan untuk mendatangkan investor di tanah air.
“Salah satu investasi yang digenjot adalah pengembangan baterai. Sebagai komponen utama dalam electric vehicle (EV), Indonesia memilki raw material-nya berupa aluminium, tembaga, graphite, nikel, mangan, dan cobalt,” ungkap Taufiek.
Sementara Ketua Kadin Komite Tetap Industri Logam, Mesin, dan Alat Transportasi, I Made Dana Tangkas, mengatakan bahwa Indonesia harus dapat membangun ekosistem industri otomotif. Perubahan kegiatan otomotif yang berjalan dari Internal Combustion Engine (ICE) hingga Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV) harus memberikan keterbukaan atau kesempatan bagi berbagai stakeholder untuk terlibat.
“Indonesia berpeluang terbesar di ASEAN yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan EV dan EV Battery Ecosystem. Tantangan ke depan ada pada SDM. Dengan adanya era industri 4.0 dan pandemi Covid-19, maka SDM adalah aset terpenting bagi industri,” ujar Made.
Sementara itu di sektor industri elektronik, Pemerintah berupaya meningkatkan jaringan 5G dalam mendukung infrastruktur digitalisasi di Indonesia. Langkah ini juga perlu penguatan ekosistemnya sehingga bisa berdaya saing.
Menurut Taufiek, Kemenperin mendukung pembangunan ekosistem 5G melalui beragam kebijakan strategis, seperti regulasi terkait konten lokal dan pemberian insentif. Sudah banyak perusahaan lokal yang berkontribusi untuk set-up hardware. Selain itu, ada juga kolaborasi antara lembaga pendidikan dengan technopark didukung oleh vendor domestik.
Namun demikian, upaya tersebut memerlukan kompetensi sumber daya manusia (SDM) sesuai kebutuhan terkait keahlian berkaitan dengan software, infrastruktur, hardware, dan lainnya. Oleh karena itu, Indonesia mengundang para investor ambil bagian dalam transformasi 5G.








Tinggalkan Balasan