, ,

Lulusan PEP Bandung Bisa Jadi Agen Perubahan Hilirisasi

Posted by

Bandung, Petrominer – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mendorong lulusan Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung untuk menjadi agen perubahan dalam mengakselerasi hilirisasi dan inovasi di sektor energi dan pertambangan. Pesan tersebut disampaikan saat memberikan sambutan pada Wisuda Diploma Tiga ke-4 Tahun Akademik 2024/2025 sekaligus perayaan Dies Natalis ke-6 PEP Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/8).

Dari empat angkatan lulusan PEP Bandung sejauh ini, kontribusi terhadap penguatan sektor pertambangan nasional dinilai signifikan. Bahkan, berdasarkan data BPSDM ESDM, 90 persen lulusan sudah terserap di dunia kerja.

“Dari yang disampaikan oleh Bapak Kepala BPSDM tadi, 90 persen dari wisudawan sudah diterima dalam dunia pekerjaan,” ungkap Yuliot.

Pada tahun akademik 2024/2025, PEP Bandung meluluskan 62 wisudawan, terdiri dari 24 lulusan program studi Teknik Geologi, 24 lulusan Teknologi Pertambangan, dan 14 lulusan Teknologi Metalurgi. Dari jumlah tersebut, 15 orang merupakan penerima beasiswa Kementerian ESDM, tiga mahasiswa berprestasi PEP, 14 penerima beasiswa kerja sama perusahaan, dan 30 lulusan pembiayaan mandiri.

Wamen ESDM mengakui bahwa PEP Bandung telah mempersiapkan lulusannya melalui pendidikan berbasis kompetensi yang sangat relevan dan memiliki kerja sama erat dengan dunia usaha.

“PEP Bandung telah membekali para lulusan dengan pendidikan berbasis kompetensi praktik industri dengan pembinaan karakter kurikulum adaptif, fasilitas praktik yang relevan serta kolaborasi dengan industri. Ini adalah bukti nyata pendidikan vokasi kita siap untuk menghadapi dinamika sektor energi dan pertambangan di masa depan,” ujarnya

Apalagi, jelas Yuliot, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan harus dioptimalkan melalui hilirisasi agar memberikan nilai tambah, bukan sekadar mengekspor bahan mentah.

Cadangan bauksit Indonesia berada di peringkat 4 dunia, tembaga peringkat 9, emas peringkat 4, timah peringkat 1, dan batubara peringkat 6. Dari sisi produksi, Indonesia menempati peringkat pertama dunia untuk nikel dan timah, peringkat ke-6 untuk bauksit, ke-8 untuk emas, dan ke-3 untuk batubara.

Dengan potensi tersebut, Wamen ESDM menilai penting membangun rantai pasok industri di dalam negeri agar Indonesia memegang peran sentral dalam ekosistem penyediaan produk setengah jadi, komponen, maupun produk akhir.

“Hilirisasi bukan hanya strategi ekonomi, tetapi juga bagian dari upaya kemandirian bangsa menuju visi Indonesia Emas 2045. Diproyeksikan, pada 2040 program hilirisasi dapat menarik investasi hingga US$ 618 miliar, menciptakan tiga juta lapangan pekerjaan, serta mendorong pertumbuhan PDB dan nilai ekspor secara signifikan,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *