Jakarta, Petrominer — Lubang bekas tambang batubara di Kalimantan Timur kembali memakan korban. Kali ini, dua pelajar SMP di kawasan Kelurahan Bukuan, Samarinda, Kalimantan Timur, atas nama Dias Mahendra (15) dan Edi Kurniawan (15), tewas tenggelam di lubang tambang tersebut, Selasa (8/11).
Menurut Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kalimantan Timur, lokasi tewasnya kedua remaja itu hanya berjarak ± 300 Meter dari pemukiman. Malahan, lokasi itu hanya 15 meter dari sawah serta berhimpitan langsung dengan ruang hidup warga saat ini.
“Tempat kejadian hingga tewasnya anak-anak itu berada di wilayah konsensi tambang PT Energi Cahaya Industritama (ECI), perusahaan yang berafiliasi dengan PT Harapan Borneo Internasional milik Honardy Boentario. Sebelumnya, pada April 2014 lalu, di lokasi yang sama juga telah menelan korban atasnama Nadia Zaskia Putri (10),” jelas Dinamisator JATAM Kaltim, Pradarma Rupang, Rabu (9/11).
Rupang menjelaskan, lubang bekas tambang ECI ini ditinggalkan sejak tahun 2013 tanpa reklamasi dan rehabilitasi serta menggerogoti lahan-lahan warga sekitar hingga menyebabkan longsor terus menerus. ECI yang mendapatkan izin seluas 1.977,33 hektar masih mendapatkan hukuman dari Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan (KLHK) pasca tenggelamnya Nadia Zaskia Putri (10) di kolam bekas tambang perusahaan pada 8 April 2014.
“Sudah dari kemarin kami tegaskan tutup seluruh lubang tambang yang ada di Samarinda dan segera audit seluruh perusahaan Tambang yang ada di seluruh Kalimantan Timur,” desaknya.
JATAM Kaltim mengaku kesal dengan watak dan perilaku Pemerintah yang tidak serius dalam mengatasi persoalan jatuhnya korban, terutama anak-anak. Padahal, sudah ada Pakta integritas PADA 20 juni 2016 lalu yang ditandatangani di depan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), KLHK, serta Koordinasi dan Supervisi (Korsup) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Senada dengan Rupang, Kepala Kampanye JATAM Nasional, Melky Nahar, mengaku kesal dengan kinerja pemerintah yang abai terhadap keselamatan rakyat dan lingkungan.
“Rentetan peristiwa anak-anak tewas tenggelam di lubang tambang sesungguhnya bukan baru kali ini, tapi, sudah berulangkali terjadi. Hanya saja, Negara yang semestinya hadir dan bertanggungjawab untuk mengatasi persoalan ini masa bodoh bahkan melakukan pembiaran,’ tegas Melky.
Kejadian dua anak yang tewas di lubang tambang itu akan diperparah dengan kebijakan rezim Jokowi – JK terkait proyek ketersediaan listrik 35.000 MW yang sedang digenjot pemerintah. Proyek pembangkit listrik baru untuk penyediaan 35.000 MW tersebut, sebanyak 63% akan dipenuhi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), dimana bahan bakunya bersumber dari batubara.








Tinggalkan Balasan