
Jakarta, Petrominer – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) terus berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui berbagai kontribusi langsung maupun tidak langsung. Salah satunya dari aliran Dana Bagi Hasil (DBH) serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor migas, yang menjadi sumber penting pendapatan daerah.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pertamina, Rinto Pudyantoro, menjelaskan DBH migas merupakan bagian dari penerimaan negara yang dibagikan kembali kepada daerah penghasil. Sementara PBB migas menjadi salah satu komponen pajak terbesar yang juga memberikan kontribusi signifikan bagi daerah.
“Ini adalah bentuk nyata penerimaan yang langsung masuk ke kas daerah dan menjadi bagian dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD),” ujar Rinto dalam sebuah diskusi yang digelar di Jakarta, Kamis (2/4) lalu
Bahkan secara nasional, kontribusi PBB sektor migas mencapai porsi yang sangat besar dalam struktur penerimaan PBB. Sektor migas menyumbang sekitar setengah dari total penerimaan PBB.
“Yang menarik, sebagian besar dari penerimaan tersebut, yakni sekitar 98 persen, didistribusikan kembali ke daerah. Artinya, manfaat ekonomi sektor migas sangat besar bagi daerah penghasil,” tambahnya.
Di tingkat daerah, kontribusi tersebut juga terlihat nyata. Di Kabupaten Tanjung Jabung, Provinsi Jambi, misalnya, aktivitas operasional PetroChina International Jabung Ltd. memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan daerah.
“Berdasarkan Data Kemenkeu Tahun 2025, kontribusi dari sektor ini mencapai sekitar Rp 698 miliar melalui Dana Bagi Hasil migas, serta sekitar Rp 280 miliar dari Pajak Bumi dan Bangunan sektor migas,” ungkap Rinto.
Menurutnya, kontribusi tersebut menjadi yang terbesar di antara kabupaten dan kota lainya di Provinsi Jambi. Selain itu, kontribusi ini juga menjadi salah satu sumber penting dalam mendukung pembangunan daerah, termasuk pembiayaan infrastruktur, layanan pendidikan, kesehatan, serta berbagai program peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Lebih lanjut, Rinto menekankan dampak industri hulu migas tidak hanya berhenti pada penerimaan langsung, tetapi juga memiliki efek berganda (multiplier effect) yang jauh lebih besar terhadap perekonomian.
“Seringkali kita hanya melihat dari sisi penerimaan negara atau daerah, padahal itu baru sebagian kecil dari keseluruhan dampak. Aktivitas hulu migas menciptakan efek berantai, mulai dari penciptaan lapangan kerja, perputaran ekonomi lokal, hingga dukungan terhadap sektor lain seperti listrik dan industri,” ungkapnya.







