Cilamaya, Petrominer – Tujuan awalnya tidaklah muluk-muluk. Berupaya mempertahankan kesuburan lahan agar panen padi tidak menurun dari musim ke musim. Malahan jika memungkinkan, hasil dari bercocok tanam tersebut bisa ditingkatkan tanpa harus menambah luasan lahan yang digarap.
Menaikan produksi tanpa menambah luas lahan memang sudah menjadi ambisi bagi setiap petani. Biasanya dilakukan dengan menerapkan pola tanam yang benar dengan disertai pemupukan. Namun sayang, penggunaan pupuk kimia yang terus menerus justru bisa menyebabkan kerusakan lingkungan dan kesuburan tanah menurun. Padahal, ini sudah menjadi kebiasaan yang sulit diubah.
Namun tidak ada yang tidak bisa diubah. Bagaimana caranya? Inilah yang dijadikan tantangan tersendiri oleh Aep Endang Sudrajat (60), petani dari Desa Cilamaya, Cilamaya Wetan, Karawang, Jawa Barat.
Berbekal pengalamannya selama bertahun-tahun di dunia pertanian, Aep berinisiatif meninggalkan kebiasaan menggunakan pupuk kimia dan berpaling ke pupuk organik. Dia tidak ingin kesuburan lahannya menurun dan rusak akibat kebiasaan lama tersebut.
Tentu Aep tidaklah sendirian dalam melakukan upaya perubahan itu. Dia mengajak beberapa petani dan kelompok tani di desanya untuk melakukan hal yang sama.
Sebagai Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Saluyu, Aep bertanggung jawab untuk memimpin kelompoknya agar terus menerus berinovasi mengembangkan usaha pertanian organik. Tidak hanya upaya untuk mendorong peningkatan pendapatan bagi anggotanya, namun dia juga ingin agar kelestarian lingkungan dan kesuburan tanah di wilayahnya tetap terjaga.
Maka tidaklah heran apabila upaya melestarikan lingkungan tersebut kini mendapat ganjaran berupa panen padi yang berlimpah.

Keberanian Aep bersama kelompok taninya berpaling ke pertanian organik tidak lepas dari peran aktif dan dukungan dari PT Pertamina Gas (Pertagas). Melalui program corporate social responsibility (CSR), afiliasi PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) ini memberikan pendampingan kepada para petani dalam mengembangkan pertaninan organik tersebut.
Dukungan lainnya yang diberikan Pertagas di antaranya adalah bantuan pupuk organik, pelatihan pengolahan pupuk dan pestisida nabati, pelatihan untuk meningkatkan keahlian para petani, perluasan lahan, dan juga melibatkan peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat.
Melalui pelatihan yang intensif, kian banyak petani yang tertarik untuk ikut menerapkan penggunaan pupuk organik dan juga pestisida organik untuk penanganan hama. Apalagi, kebiasaan baru tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan juga memberi manfaat terutama menjaga kesuburan tanah.
Menurut Aep, sejak mendapatkan pendampingan mengelola pertanian ramah lingkungan dari Pertagas beberapa tahun lalu, hasil panen meningkat dibandingkan sebelumnya. Pada tahun 2019, mereka dua kali melakukan panen. Sebanyak 7 ton padi berhasil dipanen untuk satu hektar lahan. Padahal saat itu, mereka menggarap 7 hektar lahan pertanian ramah lingkungan.
Kini, di tengah pandemi Covid-19, mereka justru telah menambah luasan lahan tanam hingga 100 persen dibandingkan tahun 2019 lalu.
“Karena kami lihat hasilnya bagus, kami pun menambah luasan lahan di tahun 2020 ini. Kalau dulu hanya 7 hektar, kami tambah luasan lahan menjadi 14 hektar,” ujar Aep dalam wawancara secara virtual melalui aplikasi Microsoft Teams dengan sejumlah wartawan pertengahan September 2020 lalu.
Manager Communication, Relation, dan CSR Pertagas, Zainal Abidin, mengapresiasi kegigihan kelompok tani binaannya untuk tetap berproduksi di tengah pandemi. Mereka disebutnya sebagai salah satu pejuang ketahanan pangan negeri.
“Pertagas menaruh perhatian besar terhadap isu ini,” tegas Zainal.
Karena itulah, Pertagas menyambut baik keinginan Gapoktan Saluyu untuk menambah ekspansi lahannya di tahun 2020 ini. Apalagi mereka berinisiatif menanggung seluruh biaya sewa lahan tanpa bergantung lagi dari Pertagas.
Meski demikian, Pertagas tetap ikut berkontribusi dalam pendampingan bagi anggota kelompok petani yang baru bergabung untuk mengikuti pelatihan pertanian ramah lingkungan, Pertagas juga masuk membantu dari sisi pengadaan pupuk organiknya, meski sebagian sudah diproduksi dan didanai oleh para petani sendiri.
Zainal berharap, kesuksesan Gapoktan Saluyu tersebut akan memicu para petani lain untuk tetap semangat berjuang di garda terdepan menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan nasional di tengah pandemi.
“Kami juga selalu mendampingi dan mengingatkan agar rekan-rekan petani mengantisipasi adanya wabah saat melakukan aktivitas di sawah,” ujarnya.








Tinggalkan Balasan