Balikpapan, Petrominer — PT Pertamina (Persero) bersama Badan Pengelola Kebun Raya Balikpapan dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggagas serangkaian program yang diberi nama Pertamina Ecopedition. Kegiatan yang telah digulirkan sejak tahun 2013 itu untuk membantu melindungi keanekaragaman hayati di Hutan Lindung Sei Wain (HLSW), Balikpapan, Kalimantan Timur.
Pertamina Ecopedition merupakan sebuah program ekspedisi pencarian bibit flora asli Kalimantan untuk diselamatkan dan dilestarikan. Hingga saat ini, keseluruhan program tersebut dijalankan secara berkelanjutan dan dimonitor sebagai program jangka panjang oleh Pertamina, Badan Pengelola (BP) Kebun Raya Balikpapan, dan LIPI agar masyarakat dapat terus merasakan manfaat stabilnya ekosistem dunia.
“Keanekaragaman hayati menjadi salah satu perhatian Pertamina terhadap lingkungan hidup, dan kami mewujudkan kepedulian tersebut melalui program Pertamina Hijau,” ujar Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Kuswandi, Rabu (25/5).
Kuswandi menjelaskan, ekspedisi pertama memakan waktu selama 15 hari di Hutan Labanan Berau. Ekspedisi tahap pertama itu berhasil menemukan 5.592 spesimen, yang terdiri dari 324 jenis tanaman kayu dan non-kayu, serta 43 jenis tanaman anggrek.
Sebagai kelanjutan dari program Pertamina Ecopedition, Pertamina membangun taman tematik seluas 3.000m2 yang diberi nama Belian Park. Taman tematik yang dibangun di dalam kawasan Kebun Raya Balikpapan ini bertujuan untuk mengkonservasi lebih dari 1.000 tanaman obat khas Kalimantan. Selain itu, taman yang telah resmi pada bulan Juni 2014 ini juga digunakan untuk sarana pendidikan lingkungan hidup bagi siswa TK hingga SMU di Balikpapan.
Selain membangun taman tematik, Pertamina juga mengadopsi 2 dari 7 ekor Beruang Madu yang penyelundupannya berhasil digagalkan pihak berwajib. Beruang Madu yang diberi nama Anna dan Harris ini dikonservasi di Enclosure Beruang Madu, Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) Km 23 Kota Balikpapan.
Hutan Lindung Sei Wain terletak di Kota Balikpapan dan menjadi benteng terakhir pertahanan keanekaragaman hayati di kota yang mendapat julukan Kota Beruang tersebut. Disebut sebagai miniatur hutan primer Kalimantan oleh para ahli kehutanan, hutan ini termasuk ke dalam tipe hutan Dipterocarpa dataran rendah, yang dulunya hampir menutupi seluruh wilayah antara Balikpapan-Samarinda.
Berdasarkan data litbang (penelitian dan pengembangan) UP HLSW & DAS Manggar pada tahun 2011-2012, disebutkan bahwa di HLSW terdapat 94 jenis hewan menyusui, 228 jenis burung, 23 jenis reptil, 17 jenis amfibi, 17 jenis ikan, dan 126 jenis serangga. Sementara untuk flora, terdapat 124 famili flora dan 451 jenis pohon herba, seperti spesies jahe raksasa yang diberi nama Jahe Balikpapan (Etlingera balikpapanensis) yang hanya dapat ditemukan di hutan ini.
Hutan yang dikelola oleh Badan Pengelola (BP) Kebun Raya Balikpapan ini juga memiliki jenis pohon kanopi atau pohon tinggi yang menduduki peringkat tertinggi di Asia Tenggara, seperti Bangkirai (Shorea laevis), Ulin (Eusideroxylon zwageri) dan Gaharu (Aquilaria malaccensis). Terdapat pula jenis-jenis epifit (anggrek), pakis dan tumbuhan rambat lainnya juga masih tumbuh dengan subur.
Dengan luas wilayah mencapai 9.782 hektar, HLSW menghadapi tantangan besar yaitu gangguan dari ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Sejak dahulu HLSW dihantui oleh aksi perburuan liar, pembalakan hutan, penebangan dan perambahan hutan serta kebakaran hutan.









Tinggalkan Balasan