Jakarta, Petrominer – Kementerian Perindustrian tengah merumuskan satu konsep yang disebut green mobility. Konsep ini nantinya tidak hanya mensyaratkan ketentuan pada green car semata, namun juga akan berlaku pada semua moda transportasi dan berbasis pada energi hijau.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menjelaskan bahwa Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin saat ini sedang merumuskannya. Konsep tersebut didasari atas sudah mulai masuknya investasi dari Inggris untuk memproduksi bus berbasis energi hijau (green bus).
“Dengan adanya konsep green mobility ini, kami membuka pintu seluas-luasnya bagi teknologi yang mengarah kepada green mobility, jadi tidak hanya terbatas pada electric vehicle. Sebab secara umum mobil listrik sudah menjadi tujuan prioritas kita,” ujar Agus dalam acara Jumpa Pers Akhir Tahun 2021 Kementerian Perindustrian, Rabu (29/12).
Meski begitu, menurutnya, teknologi akan terus berkembang dan menyesuaikan terhadap demand (keinginan) customer. Karena itu, industri juga harus selalu bisa bersifat fleksible terhadap keinginan customer, termasuk juga di bidang industri otomotif.
“Nantinya keinginan customer seperti apa, sehingga jika mereka menghendaki menggunakan energi hijau, maka mobil atau kendaraan yang kita produksi harus menggunakan energi hijau untuk dapat mengelola industri yang ramah pada lingkungan,” ungkap Menperin.
Dia meyakini, apapun yang menjadi basis teknologi di dunia dipastikan seluruhnya akan mengarah pada mekanisme energi hijau. Misalnya bicara soal ICE (Internal Combustion Engine), nantinya semakin lama akan mengarah pada penggunaan energi yang ramah pada lingkungan.
“Termasuk apabila membahas standar emisi gas buang Euro 4 dan Euro 5, yang secara regulasinya sudah mengharuskan untuk melakukan inovasi agar teknologi yang digunakan bisa ramah pada lingkungan (green energy),” papar Agus.
Selective Catalytic Reduction
Selain menyusun konsep di atas, saat ini Ditjen ILMATE juga sedang merumuskan penggunaan teknologi yang sangat sederhana, yakni Selective Catalytic Reduction (SCR).
“Dengan menggunakan device (peralatan) yang bentuknya sebesar telepon genggam, nantinya alat tersebut diletakkan di dalam knalpot, yang diberlakukan khusus untuk kendaraan mobil berbasis mesin diesel. Device yang harganya tidak mahal ini diklaim akan dapat mengurangi sampai 80 persen bahaya emisi dari Nox, yang sangat berbahaya bagi lingkungan,“ jelas Agus.
Kebijakan ini nantinya akan diberlakukan secara wajib pada kendaraan berbasis bahan bakar diesel dan solar. Kemenperin meyakini semua teknologi pada akhirnya juga akan berlomba-lomba menerapkan energi hijau. Karena jika tidak mampu mengaplikasikannya, pasti akan ditinggalkan oleh para customernya.
Oleh karena itu, tegasnya, Kemenperin selalu terbuka dengan jenis teknologi apapun, selama masih berorientasi pada energi hijau. Begitu pula dengan ICE yang disebut dengan teknologi baik secara tradisional maupun konvensional, kalau bisa ditransformasikan sebagai industri hijau, maka engine dan teknologinya juga akan mengarah ke sana, dan kami dari Kemenperin akan menyesuaikan.









Tinggalkan Balasan