Proses perakitan produk United E-Motor tipe T1800 di pabriknya di Citeureup, Bogor. (Petrominer/Pris)

Jakarta, Petrominer – Presiden Joko Widodo telah menetapkan penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle) sebagai kendaraan dinas di pemerintahan, baik pusat maupun daerah. Sesuai ketentuan tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendapat tugas melakukan percepatan produksi berbagai jenis kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB), baik sepeda motor maupun kendaraan bermotor roda empat atau lebih.

“Kemenperin berkomitmen mendukung upaya transformasi ini, sejalan dengan peta jalan pengembangan KBLBB Kemenperin,” kata juru bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, Selasa (20/9).

Saat ini, menurut Febri, terdapat empat perusahaan bus listrik, tiga perusahaan mobil listrik, serta 31 perusahaan roda dua dan roda tiga listrik dengan total investasi Rp 1,872 Triliun. Kapasitas produksi kendaraan listrik per tahun mencapai 2.480 unit bis, 14.000 unit mobil listrik, serta 1,04 juta unit untuk kendaraan roda dua dan roda tiga listrik.

“Dari 2017-2021, pendaftaran KBLBB di Kementerian Perhubungan selalu mengalami peningkatan tiap tahun. Terakhir pada tahun 2021 meningkat 360 persen dari tahun sebelumnya,” jelasnya.

Industri otomotif di Indonesia menyerap tenaga kerja langsung hingga 38 ribu orang. Sementara lebih dari 1,5 juta orang bekerja di sepanjang rantai nilai sektor tersebut, termasuk industri kecil dan menengah (IKM).

ICE Tetap Berproduksi

Dengan adanya akselerasi peningkatan produksi KBLBB, kendaraan dengan pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE) masih tetap diproduksi di Indonesia. Malahan, kendaraan ICE masih menunjukkan angka ekspor yang tinggi. Hingga Agustus 2022, ekspor kendaraan ICE mencapai 285.941 unit, dari total produksi sebesar 920.376 unit.

Pada tahun 2025, jumlah KBLBB di Indonesia ditargetkan mencapai 400 ribu unit atau 25 persen dari total produksi kendaraan bermotor roda empat yang akan mencapai 1,6 juta unit.

“Di tahun 2035, Kemenperin menargetkan produksi 1 juta KBLBB roda empat atau lebih dan 3,22 juta KBLBB roda dua. Target tersebut diharapkan dapat menghemat penggunaan bahan bakar fosil dan menurunkan emisi CO2 hingga 12,5 juta barel per 4,6 juta ton untuk roda empat atau lebih dan 4 juta barel per 1,4 juta ton CO2 untuk kendaraan roda dua,” ujar Febri.

Artinya persentase jumlah KBLBB akan terus meningkat bila dibandingkan dengan jumlah kendaraan ICE.

Tugas lain Kemenperin adalah memberikan dukungan teknis untuk pendalaman struktur industri KBLBB dalam negeri agar mampu memenuhi target capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Selanjutnya melakukan percepatan pengembangan komponen utama dan komponen pendukung industri KBLBB.

“Kami juga ditugaskan melakukan percepatan produksi peralatan pengisian daya (charging station) dan komponen penunjang industri KBLBB,” ungkap Febri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here