Petugas mengoperasikan mesin pres limbah botol plastik Bank Sampah Induk di Nunukan, Kalimantan Utara. (Petrominer/Pris)

Nunukan, Petrominer – Berkarya bagi negeri, namun juga selaras dengan alam. Inilah yang menjadi ciri dari implementasi program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field (Tarakan Field). Salah satunya adalah Bank Sampah Induk di Pulau Nunukan, Kalimantan Utara.

Pada dasarnya, Bank Sampah Induk Nunukan sama dengan bank sampah pada umumnya. Namun, tentu saja ada hal yang membedakannya, yakni fokus Bank Sampah Induk Nunukan pada pengolahan limbah botol plastik.

“Nunukan adalah pulau kecil, namun limbah botol plastiknya sungguh luar biasa. Bisa mencapai puluhan hingga ratusan ton dalam setahun. Kebanyakan sampah tersebut merupakan kiriman dari daerah lain,” ujar Tarakan Field Legal & Relation Assistant Manager, Enriko R.E Hutasoit, Jum’at (22/11).

Mengutip Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nunukan, Enriko menyebutkan bahwa hingga September 2019 jumlah sampah anorganik yang dihasilkan dari kabupaten ini sudah mencapai 2.295 ton, dan sampah organik sebanyak 649 ton. Sampah anorganik tersebut naik cukup tinggi dibandingkan 1.616 ton pada tahun 2018 dan 985 ton tahun 2017.

Hal inilah yang mendorong Tarakan Field untuk bekerja sama dengan DLH Kabupaten Nunukan. Pelibatan masyarakat dan stakeholder sangat penting mengingat sampah merupakan persoalan bersama. Sejak tahun 2018, dibuatlah program CSR bagi Bank Sampah Induk Nunukan yang fokus pada pengolahan limbah anorganik botol plastik.

“Di Nunukan yang belum tertangani adalah sampah plastiknya, untuk limbah rumah tangga sudah ada TPA (Tempat Pembuangan Akhir),” katanya.

Langkah awal yang diambil adalah dengan memfasilitasi benchmark dengan Kota Tarakan, tepatnya dengan KSM Ramah Lingkungan di Kelurahan Kampung Enam. KSM Ramah Lingkungan adalah mitra binaan Tarakan Field juga yang sudah mandiri dari program pengelolaan sampah. Tidak hanya benchmark, Bank Sampah Induk Nunukan juga diberi pelatihan bagaimana mengelola manajemen bank sampah serta bantuan mesin press.

“Bank Sampah Induk Nunukan dirancang untuk menjadi ujung tombak pengelolaan sampah di wilayah Pulau Nunukan,” tegas Enriko.

Botol plastik biasanya dimanfaatkan nelayan setempat sebagai pelampung budidaya rumput laut. Namun, penggunaan botol plastik untuk pelampung rumput laut biasanya hanya dipakai satu atau dua kali panen saja. Karena paparan air laut, pelampung botol tersebut mudah rusak. Setelah itu, botol-botol bekas pelampung dibiarkan hanyut ke pantai.

Untuk tahun 2020, lanjut Enriko, pihaknya bersama Pemkab Nunukan memfasilitasi bank sampah induk dalam program pembuatan pelampung rumput laut ramah lingkungan. Hal ini terkait dengan keberadaan Pulau Nunukan khususnya di Mamolo, yang dikenal sebagai produsen rumput laut terbesar di Kalimantan Utara.

“Dengan inovasi pelampung yang akan kita buat ini lebih tahan lama bisa sampai lima kali panen sehingga kita bisa menekan penggunaan limbah plastik di perairan Mamolo,” katanya.

Potensi Ekonomi

Selain akan dijadikan bahan untuk pembuatan pelampung budidaya rumput laut, limbah botol plastik tersebut bisa langsung dipres dan dijual ke pengepul untuk dikirim ke Surabaya. Potensi ekonomi ini menarik minat masyarakat untuk mengumpulkan botol plastik untuk ditukarkan ke Bank Sampah

“Sebelumnya, botol plastik seringkali dibakar oleh para nelayan. Asap dari hasil membakar botol bila dihirup sangat berbahaya bagi kesehatan. Sementara bila dibiarkan, lingkungan dan ekosistem terganggu. Padahal, limbah botol plastik menyimpang potensi ekonomi,” ujar Ketua Bank Sampah Induk Nunukan, Bambang Eko Purwanto.

Botol plastik biasanya dimanfaatkan nelayan setempat sebagai pelampung budidaya rumput laut. Namun, penggunaan botol plastik untuk pelampung rumput laut biasanya hanya dipakai satu atau dua kali panen saja. Setelah itu, botol-botol bekas pelampung dibiarkan hanyut ke pantai. (Petrominer/Pris)

Bambang menjelaskan, sejak menjadi mitra binaan Tarakan Field, lembaga yang dipimpinnya sudah menaungi 18 unit bank sampah dengan jumlah nasabah mencapai 5.000 orang. Bank Sampah Induk Nunukan bisa mengumpulkan sampah botol plastik dari bank-bank sampah yang ada di seluruh Nunukan rata-rata 1 ton tiap minggu atau 4 ton per bulan.

“Sampah botol plastik tersebut tidak hanya buatan dalam negeri, namun juga limbah botol plastik dari Malaysia,” jelasnya ketika dikunjungi di lokasi Bank Sampah Induk Nunukan, Kamis (21/11).

Sampah botol plastik itu dibeli dengan harga Rp 1.000 per kilogram. Setelah dipres atau dicincang, dijual Rp 2.000 per kg. Kecuali plastik dalam bentuk cacahan yang bisa laku Rp 2.200 – Rp 3.000 per kilogram.

Sampah botol plastik yang telah dipres atau dicacah dikirimkan ke pabrik pengolahan daur ulang sampah di Surabaya, Jawa Timur. Rata-rata pengirimannya bisa mencapai 2 ton setiap bulan.

“Kami tidak bisa kirim langsung ke Surabaya karena biaya pengirimannya mahal, mencapai Rp 10 juta sekali kirim. Jadi dijual ke pengepul besar yang langsung kirim ke Surabaya,” kata Bambang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here