Pertamina berkolaborasi dengan Society of Renewable Energy (SRE) membangun Solar PV untuk kebutuhan di tujuh subak Desa Keliki, Ubud, Gianyar, Bali.

Jakarta, Petrominer – Pertamina komitmen untuk mendorong percepatan penyebaran energi baru dan terbarukan (EBT) yang terdesentralisasi melalui pembinaan desa-desa energi berdikari berbasis EBT. Langkah ini sekaligus meningkatkan ketahanan energi dan kemakmuran ekonomi masyarakat perdesaan.

Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Fajriyah Usman, mengatakan hingga kini, Pertamina memiliki 11 Desa Energi Berdikari di Indonesia. Semua desa itu dikembangkan dengan melibatkan generasi muda yang berkontribusi langsung untuk transisi energi di Indonesia.

“Desa Energi Berdikari Pertamina berbasis energi terbarukan di Desa Keliki, Ubud, Gianyar, Bali, merupakan yang terbesar di Indonesia,” ungkap Fajriyah, Kamis (29/9).

Desa Keliki menjadi salah satu proyek percontohan program Desa Energi Berdikari Pertamina berbasis EBT. Desa ini juga menjadi tujuan studi para delegasi negara-negara G20 yang tergabung dalam Energy Transition Working Group (ETWG) G20 pada awal September 2022 lalu.

Di Desa Keliki, telah terpasang 8 titik solar PV dengan kapasitas 28 kWp untuk menjangkau 1.200 kepala keluarga (KK). Energi bersih tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan masyarakat seperti mengoperasikan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), pembangunan Eco-Village, dan usaha budi daya (agriculture) berbasis energi baru terbarukan.

Pemasangan panel surya di Desa Keliki dilakukan oleh tim GoGerilya Kementerian ESDM, Society of Renewable Energy (SRE), dan mahasiswa Universitas Udayana. Solar PV ini menyumbang pengurangan emisi karbon sebesar 37.750 kg C02 per tahun.

Dengan hadirnya energi terbarukan, masyarakat desa bisa berinovasi membuat kompos organik dari limbah domestik untuk pertanian, membangun desa ramah lingkungan dari solusi berbasis alam serta mengolah sampah untuk meningkatkannya nilai ekonomi.

Solar PV  juga telah mendorong warga desa berinovasi untuk sawah irigasi menggunakan air tanah. Tercatat ada 7 Subak atau sistem pengairan khas Bali yang menggunakan energi terbarukan yakni Subak Tain Kambing, Subak Uma Desa Sebali, Subak Uma Desa Keliki, Subak Jungut , Subak Umelikode, Subak Bangkiangsidem  dan Subak Lauh Batu.

Menurut Fajriyah, pembangunan energi terbarukan di Desa Keliki merupakan komitmen Pertamina dalam menerapkan Environmental, Social & Governance (ESG) dan sekaligus mendukung implementasi SDGs poin ke 7 dan 8 yakni menyediakan energi bersih dan terjangkau, serta memberikan pekerjaan layak, mendukung perekonomian dan kemandirian masyarakat.

“Desa Berdikari Pertamina di Keliki menjadi pilot project pengembangan energi terbarukan dan sekaligus bentuk dukungan perseroan terhadap Presidensi G20 Indonesia yang berfokus pada transisi energi bersih,” jelasnya.

Selain Desa Keliki, Desa Energi Berdikari binaan Pertamina lainnya adalah Balkondes Wringinputih, Magelang (1,2 KWP), Balkondes Karangrejo, Magelang (1,2 KWP), Desa Wisata & Budi Daya Kepiting, CIlacap (6,6 kWP), Life Energi Karang-Karangan Solar Home Sistem, Luwu (4,4 KWP), Energi Pelosok Cindako, Maros (6,6 KWP), Wisata Edukasi Kampung Sekaja, Jambi (2,2 KWP), Desa Energi Berdikari Krueng Raya, Aceh Besar (4,4 KWP), PLTS Pemberdayaan Kelompok Tani Desa Wayame, Ambon (4,4 KWP), Walahar Eco Green, Karawang (2,2 KWP), dan Pusat Konservasi Elang Kamojang, Garut (6,6 KWP).

Di Desa Energi Berdikari tersebut, Pertamina memiliki 47 Program energi terbarukan. Program tersebut meliputi Solar Energy (29 Program), Hybrid Energy (1 Program), Biogas and Biomethane (11 Program), Microhydro Energy (4 Program) dan Biodiesel Energy (2 Program).

Seluruh program ini menyumbang pengurangan emisi karbon sebesar setara 530.000 ton CO2 per tahun dan memberikan multiplier effect  Rp 1,8 miliar per tahun bagi  2.750 rumah tangga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here