Jakarta, Petrominer — Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengklaim industri kelapa sawit nasional masih menjadi penyumbang devisa terbesar meski mengalami penurunan ekspor dalam dua tahun terakhir.
Menurut Ketua Umum Gapki Joko Supriyono, perolehan devisa ekspor produk kelapa sawit tahun 2015 hanya mencapai US$ 18 miliar, atau turun 16,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 21 miliar. Meski begitu, industri Sawit national masih menempati posisi teratas sebagai penyumbang devisi bagi negara.
“Meskipun mengalami penurunan namun sumbangan ekspor dari industri kelapa sawit masih lebih bagus dibandingkan ekspor sektor migas yang juga mencapai US$ 18 miliar,” ujar Joko di sela-sela acara buka puasa bersama, Jum’at (10/6).
Selain menjadi penyumbang terbesar untuk ekspor nasional, Joko menyebutkan bahwa saat ini industri kelapa sawit juga masih menjadi sektor yang mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan kesejahteraan petani, hingga mendukung pembangunan daerah.
“Oleh karena itu, tidak salah jika dikatakan industri sawit merupakan indutri yang sangat penting bagi Indonesia,” paparnya.
Namun, di tengah kontribusinya sangat disayangkan kalau industri sawit yang sangat berperan penting dalam perekonomian Indonesia justru mengalami pelemahan terlebih lagi di saat situasi sekarang ini yang sulit.
Menurut Joko, saat ini industri sawit nasional masih mendapatkan tantangan yang besar terutama gencarnya kampanye anti sawit yang sengaja dilakukan kelompok tertentu. Alasannya, industrial sawit selalu diidentikan dengan kerusakan lingkungan, penyumbang emisi gas rumah kaca, perusakan biodiversiti dan lain-lain yang negatif.
Meski begitu, dia masih optimis tahun ini industri sawit nasional akan mengalami pertumbuhan yang positif meskipun belum signifikan jika dibandingkan tahun lalu.
“Tahun lalu, industri sawit mengalami kesulitan, tahun ini akan tumbuh meskipun belum pulih 100 persen. Ada tanda-tanda peningkatan,” jelas Joko.








Tinggalkan Balasan