Nusa Dua, Bali, Petrominer – Ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil yang masih sangat besar saat ini harus mulai dikurangi. Salah satu caranya adalah dengan mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan (EBTKE) sebagai energi masa depan yang lebih bersih dan menjanjikan. Pemerintah pun diminta lebih agresif untuk mengimplementasikan EBTKE melalui program-program strategis.

Demikian disampaikan Ketua Kaukus Ekonomi Hijau DPR RI, Satya Widya Yudha, dalam panel Civil Society Policy Forum – Annual Meetings IMF-World Bank, Kamis (11/10).

Satya mengangkat topik “Transitioning from Fossil Fuels to Low-Carbon Economies: Carbon Finance for Low-Carbon Action”. Pembicara lain yang juga tampil dalam forum itu adalah Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Aziz Syamsuddin, Jianpeng Wang (Global China Research Foundation), Meenakshi Lekhi (India), Guoqing Shi (Hohai University) serta Yaxiong Cho (Wuhan University).

“Kita harus realistis, saat ini energi baru dan terbarukan merupakan kebutuhan yang mendesak dan signifikan. Kita harus mendorong investasi besar-besaran di sektor energi baru ini untuk masa depan yang menjanjikan,” jelas Satya, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR.

Anggota Parlemen dari Partai Golkar tersebut menandaskan, dalam ranga merealisasikan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 7 (renewable energy) dan 13 (climate change), perlu menjadikan energi bersih sebagai basis ekonomi. Hal ini harus diadopsi dalam setiap program-program strategis oleh pemerintah.

“Apabila energi fosil masih diperjualbelikan, butuh ditambahkan externality cost serta carbon tax agar EBTKE bisa jalan sesuai yang kita harapkan,” kata Satya.

Untuk diketahui, Indonesia hingga saat ini masih mengandalkan energi bahan bakar fosil sebagai penopang ekonomi. Padahal, energi fosil diperkirakan akan habis dalam kurun waktu tertentu. Energi bahan bakar fosil yang menjadi konsumsi utama masyarakat adalah minyak bumi, gas alam serta batubara.

“Saat ini bauran energi primer yang berbasis energi baru dan terbarukan kurang lebih hanya 8 persen. Ini sangat minim sekali, di sisi lain konsumsi energi primer kita semakin meningkat. Karena itu, DPR RI selalu mengingatkan kepada Pemerintah untuk konsisten meningkatkan bauran energi primer yang berbasis energi baru dan terbarukan sebagai energi masa depan,” kata Satya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here