, ,

Jika LPG 3 Kg Diganti CNG dan DME, Beban Subsidi Justru Bertambah

Posted by

Jakarta, Petrominer – Upaya pemerintah untuk menyiapkan alternatif pengganti LPG 3 kg melalui compressed natural gas (CNG) dan dimethyl ether (DME) batubara dinilai tidak akan menyelesaikan persoalan subsidi energi Indonesia. Alih-alih mengurangi beban fiskal, kedua alternatif tersebut justru berpotensi menciptakan kebutuhan subsidi baru yang lebih besar.

Menurut Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), mengganti LPG dengan bahan bakar lain tidak otomatis mengurangi beban subsidi negara. Selama biaya penyediaan CNG dan DME masih lebih tinggi dibandingkan LPG, beban subsidi hanya akan berpindah dari satu komoditas ke komoditas lain. Sebaliknya, Pemerintah perlu mempercepat elektrifikasi memasak melalui kompor induksi karena menawarkan penghematan yang lebih besar sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

“Dari seluruh opsi yang dianalisis, kompor induksi dinilai sebagai pilihan yang paling ekonomis karena memanfaatkan jaringan listrik yang telah tersedia tanpa membangun rantai pasok bahan bakar baru,” tulis IEEFA dalam laporannya bertajuk “Solving Indonesia’s LPG subsidy challenge requires induction, not swapping fuels,” yang diperoleh PETROMINER, Jum’at (17/7).

Bahkan, analisis menunjukkan bahwa dengan dukungan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), biaya CNG bagi rumah tangga hanya memberikan penghematan sekitar 19,6 persen dibandingkan biaya ekonomi LPG, jauh di bawah klaim pemerintah yang sebesar 30-40 persen. Persoalannya, gas HGBT semakin sulit diperoleh karena volumenya terbatas dan diprioritaskan untuk sektor industri. Akibatnya, penyedia CNG berpotensi harus menggunakan LNG hasil regasifikasi dengan harga pasar sehingga biaya CNG dapat melampaui biaya ekonomi LPG.

“Kemungkinan besar tidak ada surplus pasokan gas yang tersedia untuk program memasak nasional. Sebab setiap unit gas yang dialokasikan untuk rumah tangga akan mengorbankan sektor lain atau menyebabkan peningkatan impor LNG. Artinya program CNG untuk rumah tangga justru akan meningkatkan biaya,” jelas Randi.

Demikian juga dengan penggunaan DME diperkirakan membutuhkan subsidi sekitar Rp 22.730 per kg setara LPG, atau 2,3 kali lipat lebih besar dibandingkan subsidi LPG saat ini yang sebesar Rp 10.000 per kg. Jika menggunakan konsumsi LPG tahun 2025 yang sebesar 9,24 juta ton, konversi LPG ke DME akan membutuhkan Rp 194 triliun dalam bentuk subsidi tahunan. Besaran tersebut lebih dari dua kali lipat subsidi LPG tahun 2025 sebesar Rp 87 triliun dan hampir menyamai seluruh subsidi dan kompensasi listrik yang dibayarkan pemerintah kepada PLN pada tahun yang sama sebesar Rp200 triliun.

Selain itu, Randi menjelaskan, para investor seperti Air Products telah menarik diri dari proyek DME karena dinilai tidak layak secara ekonomi. Saat ini, enam proyek DME di Sumatera dan Kalimantan berada di bawah supervisi Danantara.

“Dengan skema pendanaan baru melalui badan usaha dalam negeri di bawah struktur Danantara, risiko kerugian dinilai hanya akan berpindah dari investor asing kepada negara,” jelasnya.

Biaya energi untuk memasak yang ditanggung konsumen di Indonesia berdasarkan jenis bahan bakar pada tahun 2026.

Kompor Induksi

Berbeda dengan CNG maupun DME, kompor induksi memanfaatkan kapasitas listrik yang telah tersedia sehingga tidak memerlukan pembangunan infrastruktur maupun rantai pasok bahan bakar baru.

Sebagai ilustrasi, apabila sekitar 42 juta rumah tangga penerima subsidi LPG dikonversi ke kompor induksi, Pemerintah membutuhkan investasi awal sekitar Rp 105 triliun untuk penyediaan paket kompor. Investasi tersebut diperkirakan dapat kembali hanya dalam sekitar 1,7 tahun melalui penghematan subsidi LPG, dengan potensi penghematan fiskal hampir Rp200 triliun dalam lima tahun.

Selain itu, dengan semakin banyak rumah tangga yang beralih ke kompor induksi, semakin besar pula pengurangan kebutuhan impor LPG yang saat ini menghabiskan devisa sekitar Rp 130-140 triliun setiap tahun dan membebani APBN ketika nilai tukar rupiah melemah maupun harga energi global meningkat.

“Daripada memilih bahan bakar pengganti terlebih dahulu dan menghitung biayanya kemudian, Indonesia perlu memprioritaskan reformasi penyaluran subsidi agar lebih tepat sasaran. Alternatif energi juga harus dipilih berdasarkan manfaat ekonomi yang dihasilkannya. Kompor induksi menawarkan manfaat paling besar dibandingkan CNG maupun DME karena mampu menekan beban subsidi, mengurangi ketergantungan pada impor LPG, sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *