Solar project (Dokumentasi PT Utomodeck Metal Works)

Jakarta, Petrominer – Pertumbuhan pemanfaatan energi surya beberapa tahun terakhir mengalami kemajuan pesat. Perkembangan ini perlu diimbangi dengan jaminan kualitas mutu produk-produk pendukungnya. Sebagai bentuk dukungan dan upaya perlindungan konsumen, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menerbitkan regulasi teknis berbasis Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk modul fotovoltaik.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Dadan Kusdiana, menyatakan bahwa aturan tersebut dituangkan dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 2 Tahun 2021 tentang Penerapan Standar Kualitas Modul Fotovoltaik Silikon Kristalin.

“SNI diwajibkan demi terjaminnya kualitas modul surya yang beredar di pasaran, dan juga meningkatkan daya saing modul surya produk lokal di pasar global karena yang diwajibkan merupakan SNI adopsi dari standar internasional IEC 61215,” ujar Dadan, Senin (6/9).

Dengan pembubuhan tanda SNI, menurutnya, masyarakat yakin modul surya yang dipilih telah melewati proses pengujian sesuai standar. Setiap produk modul fotovoltaik yang beredar di pasaran wajib bertanda SNI. Ini sebagai bentuk jaminan keamanan dan keselamatan terhadap penggunaan peralatan yang memanfaatkan energi surya, dan juga untuk pelestarian fungsi lingkungan hidup.

“Ketentuan ini wajib dipenuhi oleh produsen lokal maupun importir modul fotovoltaik,” tegas Dadan.

Sesuai amanat yang tercantum dalam Permen ESDM nomor 2 tahun 2021, sampai saat ini telah ditunjuk empat Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) dan satu Laboratorium Pengujian untuk melaksanakan proses sertifikasi modul fotovoltaik. Proses sertifikasi modul fotovoltaik dilakukan oleh LSPro dan modul fotovoltaik yang disertifikasi harus lulus uji melalui serangkaian pengujian yang ketat di Laboratorium Uji Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi – Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE-BPPT).

Modul fotovoltaik diuji sesuai dengan standar: SNI IEC 61215-1:2016, modul Fotovoltaik (FV) terrestrial – Kualifikasi desain dan pengesahan jenis – Bagian 1: Persyaratan uji; SNI IEC 61215-2:2016, modul Fotovoltaik (FV) terestrial – Kualifikasi desain dan pengesahan jenis – Bagian 2: Prosedur uji; serta SNI IEC 61215-1-1:2016, modul Fotovoltaik (FV) terestrial – Kualifikasi desain dan pengesahan jenis – Bagian 1-1: Persyaratan khusus untuk pengujian modul Fotovoltaik (FV) silikon kristalin.

Sejak diterbitkan dan diterapkannya aturan penerapan SNI ini pada 7 Januari 2021 lalu, tercatat ada 16 permohonan pengajuan proses sertifikasi ke LSPro. Per 3 September 2021, terbit Sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI (SPPT SNI) yang pertama atas nama PT Utomo Juragan Atap Surya Indonesia melalui LSPro Qualis, yang selanjutnya akan menyusul penerbitan SPPT SNI dari pemohon lainnya.

Dalam keterangannya, Managing Director Utomo Juragan Atap Surya Indonesia, Anthony Utomo, menyebutkan bahwa proses pengurusan SPPT SNI modul surya termasuk mudah, cepat, dan tidak signifikan mempengaruhi harga modul. Dengan begitu, SPPT SNI bukanlah upaya yang menghambat, namun merupakan usaha bersama antara Pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait untuk memfasilitasi permintaan masyarakat terkait jaminan kualitas atas sumber energi bersih yang ramah lingkungan.

Utomo Juragan Atap Surya Indonesia merupakan salah satu pelaku usaha penyedia jasa solusi sistem PLTS Atap nasional dengan merek sistem Utomo SolaRUV. Perusahaan ini berinisiatif melaksanakan pengurusan dan mendapatkan SPPT SNI yang pertama.

“Terbitnya SPPT SNI sesuai amanat Permen ESDM nomor 2 tahun 2021 ini diharapkan dapat mendorong perkembangan energi surya di Indonesia melalui peningkatan kualitas modul surya,” ujar Anthony, yang juga Ketua Komite Tetap Energi Terbarukan KADIN Kota Surabaya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here