Jadi Induk Holding Tambang, Inalum Bidik 2 Proyek Besar

0
1038

Jakarta, Petrominer — Usai ditunjuk menjadi induk usaha (holding) perusahaan pertambangan nasional, PT Indonesia Asahan Alumina (Persero) atau Inalum mulai agresif. Hal ini dibuktikan dengan adanya 2 proyek besar yang akan digarap perseroan dalam beberapa tahun ke depan.

Direktur Keuangan Inalum, Ogi Ahmad Kosasih, mengungkapkan dalam 5 tahun ke depan perseroan membutuhkan sedikitnya US$ 3 miliar untuk memuluskan megaproyek yang dikerjakan bersama dua perusahaan pelat merah lain, yakni PT Pertamina (Persero) dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

“Untuk Inalum yang dilakukan adalah pengembangan secara vertikal, baik ke hulu maupun hilir. Ke hulu, kami bekerjasama dengan Antam untuk bikin SGA (Smelter Grade Alumina). Kalau ditanya lebih jauh, kita (Indonesia) masih impor alumina untuk bahan baku alumunium,” ujar Ogi di kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rabu (22/3).

Seperti diketahui, bersama Antam manajemen Inalum telah meneken nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan perusahaan asal China yakni Chinalco dalam pembangunan proyek SGA di Mempawah, Kalimantan Barat. Dalam megaproyek yang hampir molor hampir 3 tahun tersebut, manajemen Inalum memprediksi proyek SGA Mempawah akan menelan dana investasi mencapai US$ 1,8 miliar dengan kapasitas produksi di angka 1 juta ton.

Sedangkan untuk kerjasama dengan Pertamina, manajemen Inalum akan membeli hasil olahan minyak dari kilang Pertamina di Dumai (Sumatera Selatan) berupa produk green coke yang nantinya digunakan sebagai salah satu bahan baku pabrik Aluminium yang sedianya dibangun (upgrade capacity) di Kalimantan Selatan dengan nilai investasi berkisar US$ 1,2 miliar.

Ada pun pembangunan pabrik tersebut akan dimulai pada Mei 2017 dengan kapasitas 60 ribu ton, sehingga pada 2018 kapasitas produksi dapat menjadi 300 ribu ton per tahun. Di mana hasil produksi dari pabrik Inalum di Kalimantan Selatan akan dijual ke pabrik yang berada di daerah Jawa Timur sebagai bahan baku pabrik velg mobil, motor dan blok mesin.

“Ini kita gunakan sebagai peleburan dan wadah di dalam proses peleburan alumunium. Yang ke hilir Kami akan lakukan pembuatan alumunium delay dan aloy meski belum tuntas selesai. Nilai tambah cukup besar, kita juga masih impor, jadi semoga dengan kita bikin sendiri semua jadi lebih hemat. Inalum saat ini sedang melakukan upgrade teknologi,” imbuh Ogi.

Cari Utang

Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan Antam Dimas Wikan Pramudhito
mengatakan pabrik SGA diproyeksikan bakal beroperasi pada 2019 mendatang.

“Bikin smelter itu 2 sampai 2,5 tahun. (Selesai) di akhir 2018 dan komersial 2019,” ujarnya.

Menyusul besarnya investasi pembangunan proyek Inalum, Ogi bilang, saat ini manajemen tengah mempersiapkan sejumlah skema pendanaan. Ia mengatakan, pihaknya juga berwacana untuk menerbitkan obligasi.

“Nilai proyek 5 tahun ke depan, ini US$ 3 miliar dan bukan hanya pakai dana Inalum. Kami juga pakai dana luar, pinjaman dan penerbitan obligasi,” kata Ogi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here