Mantan Dirjen Migas, Suyitno Patmosukismo (kiri), menyampaikan pandangannya atas materi yang telah dipaparkan oleh para pembicara diskusi terkait iklim invetasi Indonesia yang diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Rabu (11/3). (Petrominer/Fachry Latief)

Jakarta, Petrominer – Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA), Marjolijn Wajong, mengajak para investor hulu minyak dan gas bumi (migas) untuk all out guna menghadapi penurunan harga minyak dunia yang tengah terjadi saat ini. Ini diperlukan agar industri hulu migas tetap competitive.

“Saat ini, sebenarnya kita sedang mengalami krisis, setelah belum pulih karena penurunan harga minyak tahun 2014 lalu,” ujar Wajong dalam diskusi terkait iklim investasi hulu migas nasional yang digelar Ikatan Ahli Tehnik Perminyakan Indonesia (IATMI), Rabu (11/3).

Menurutnya, dari sisi pelaku usaha, jika ingin mempertahankan apalagi menaikkan produksi maka harus ada upaya luar biasa. Tidak hanya dari sisi industri hulu migas namun juga seluruh pihak termasuk Pemerintah.

Pemerintah, tegas Wajong, memiliki peranan penting karena akan menentukan keberlangsungan investasi ke depan. Salah satu faktor yang harus diperhatikan adalah daya saing atau competitiveness.

“Kita seringkali merasa sudah berusaha begini, tapi toko (negara) sebelah usahanya lebih. Jadi jangan ukur diri sendiri. ukur dengan orang lain,” tegasnya.

Wajong juga menyebutkan bahwa salah satu yang mempengaruhi daya saing tentu saja kebijakan Pemerintah dan bagaimana Pemerintah menghormati kesucian kontrak (sanctity of contract). Sayang, yang terjadi di Indoenesia kesucian kontrak terkadang tidak dihormati. Ini terjadi karena adanya perubahan di tengah kontrak yang sedang berjalan demi kepentingan jangka pendek.

Direktur Eksekutif IPA, Marjolijn Wajong. (Petrominer/Fachry Latief)

Dia memberi contoh adanya aturan baru terkait harga gas untuk industri. Padahal sebelumnya sudah ada ketentuan mengenai kewajiban menjual minyak ke dalam negeri.

“Investor sudah punya ancang-ancang, oh iya minyak dari sini mau dibawa ke refinery atau mau bisnis apa. Tahunya dengan kata yang lebih manis harus dijual di sini (dalam negeri). Lain kalau dikontrak enggak bilang begitu, harusnya dibicarakan dulu, jangan langsung bikin Permen dan tabrak kontrak,” ungkap Wajong.

Tugas Bersama

Sebelumnya, dalam forum yang sama, Tenaga ahli Menteri ESDM, Nanang Untung, mengatakan bahwa Pemerintah terus berupaya menarik investor dan memperbaiki iklim investasi hulu migas agar berjalan maksimal. Apalagi, persaingan jenis energi ke depan akan semakin ketat, yang mengakibatkan energi dari fosil akan semakin kurang kompetitif dibandingkan energi baru terbarukan

“Ini tugas kita bersama,” kata Nanang.

Dalam kurun waktu 10 tahun kedepan, menurutnya, perlu segera memaksimalkan segala upaya agar kegiatan eksplorasi, ekploitasi serta komersialisasi sumber daya migas tidak kehilangan momentum.

Tenaga ahli Menteri ESDM, Nanang Untung. (Petrominer/Fachry Latief)

Nanang menyebutkan bahwa kontraktor atau investor memiliki metodologi perhitungan keekonomian masing masing dalam menjalankan usahanya. Beberapa Kontraktor mungkin lebih nyaman dengan PSC Gross Split selama besaran split-nya sesuai ekspektasi mereka. Sementara kontraktor besar cenderung memilih PSC Cost recovery.

“Kontraktor dipersilahkan memilih antara kedua opsi tersebut,” ungkapnya.

Di akhir paparanya, Nanang menyatakan bahwa Pemerintah memperhatikan masukan dari para investor untuk memperbaiki iklim investasi, terutama tentang kepastian hukum dan kebijakan fiskal (split, FTP, DMO dan pajak). Selain itu, Pemerintah juga berusaha memaksimalkan nilai tambah sesuai Perpres nomor 40 tahun 2016.

“Industri penunjang migas dan industri hilir juga perlu disiapkan agar potensi nilai tambah bisa terealisasi secara maksimal,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here