Jakarta, Petrominer – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa bauran energi baru dan terbarukan (EBT) terus meningkat. Ini menunjukkan bahwa sektor EBT secara investasi makin menarik.
“Selain itu, harga EBT makin kompetitif sehingga pada akhirnya tidak memberatkan masyarakat,” ujar Direktur Jenderal Energi, Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM, Rida Mulyana, Kamis (2/11).
Total investasi EBT hingga Oktober 2017 mencapai Rp 11,74 triliun. Jumlah ini bisa bertambah lagi menjelang akhir tahun 2017. Pasalnya, investasi EBT menunjukan tren naik dalam tiga tahun terakhir ini.
Pada tahun 2014, nilai investasi EBT sekitar Rp 8 ,63 triliun, lalu meningkat pada tahun 2015 menjadi Rp 13,96 triliun. Sementara tahun 2016 lalu, total investasi mencapai Rp 21,25 triliun.

“Untuk mendorong kenaikan investasi di EBT, Pemerintah telah memberikan sejumlah kemudahan dan insentif bagi pengembangan sumber EBT,” papar Rida.
Dengan bergairahnya pengembangan sumber EBT, kapasitas energi terpasang dari EBT pun juga terus meningkat. Kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) terpasang hingga Oktober 2017 telah mencapai 1.808,5 megawatt (MW). Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), kini kapasitas terpasangnya mencapai 259,8 MW. Sedangkan, Pembangkit Tenaga Listrik Bioenergi kapasitasnya tercatat sebanyak 1.812 MW.
Menurut Rida, Pemerintah dari 2014 hingga 2017 telah membangun 471 unit pembangkit listrik berbasis EBT dengan total kapasitas 38,9 MW. Pembangkit tersebut mampu mengaliri listrik kepada 67.000 Kepala Keluarga (KK).
“Kapasitasnya memang kecil, tapi pembangkit itu dibangun di daerah terpencil dan sulit terjangkau. Ini merupakan bentuk pelayanan kita kepada masyarakat yang tinggal di daerah terisolir,” jelasnya.
Selain itu, sebagai upaya pemerataan distribusi energi, pemerintah juga akan membagikan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTHSE) kepada lebih dari 80.000 KK. “Mudah-mudahan tidak sampai dua tahun ke depan, tidak ada saudara kita yang tidak menikmati listrik,” kata Rida.

Mulai bulan ini, lampu tersebut akan didistribusikan ke 28 kabupaten di lima provinsi, yakni Riau, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Satu paket lampu hemat energi ini terdiri dari satu panel surya dan bohlam dengan ketahanan 6 jam, 12 jam, dan 60 jam. Lampu berdaya 3 watt ini menghasilkan sinar setara dengan bohlam 25 watt.









Tinggalkan Balasan