Jakarta, Petrominer – Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) menilai pandemi Covid-19 akan mengubah pola bisnis industri hulu minyak dan gas bumi (migas) ke depan. Untuk itu, IATMI merekomendasikan beberapa kebijakan dan strategi agar industri hulu migas nasional tetap beroperasi di masa pandemi Covid-19.
Deputi Kajian dan Opini IATMI, Benny Lubiantara, menjelaskan bahwa dampak pandemi Covid-19 yang langsung terlihat adalah turunnya permintaan minyak global secara signifikan. Hal ini berakibat harga minyak turun drastis dan semua tangki penampung yang tersebar di dunia dalam posisi penuh.
“Pada kondisi Covid-19 ini, IATMI melihat perlunya kembali didorong upaya-upaya ekstra dari semua pemangku kepentingan agar industri hulu migas nasional tetap dapat survive beroperasi,” ujar Benny, Jum’at (8/5).
Menurutnya, pada tahun 2015 dan 2016, harga minyak juga mengalami penurunan cukup tajam karena kelebihan pasokan akibat munculnya produsen baru US shale oil. Namun, kondisi tahun 2020 ini jauh lebih kompleks, karena kombinasi mendadak hilangnya permintaan yang siginifikan akibat pandemi Covid-19 dan produksi minyak global yang masih berlimpah.
Industri hulu migas Indonesia bagian dari industri migas global tentu terdampak langsung dengan kondisi ini. Sebelumnya, ketika harga minyak turun drastis, SKK Migas, KKKS bersama dengan industri penunjang melakukan berbagai upaya efisiensi biaya yang cukup berhasil. Namun pada kondisi Covid-19 ini, diperlukan upaya-upaya ekstra dari semua pemangku kepentingan agar industri hulu migas nasional tetap dapat survive beroperasi.
“IATMI mendorong dan siap mendukung pemerintah dan pelaku industri hulu melakukan langkah cepat yang diperlukan untuk mengantisipasi persaingan di era yang sama sekali berbeda,” tegas Benny.
Dengan kondisi tersebut, IATMI merekomendasikan beberapa kebijakan, strategi dan upaya yang perlu dilakukan dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Kebijakan, strategi dan upaya yang perlu dilakukan dalam jangka pendek yakni dukungan kelangsungan operasional sektor hulu migas agar tetap berjalan.
Dalam jangka pendek ini, IATMI mendorong agar PT Pertamina (Persero), sebagai BUMN Migas yang memiliki 36 persen kontribusi produksi nasional, terus berkomitmen untuk tetap menjaga keberlangsungan industri hulu migas nasional dengan mempertahankan produksi di level yang aman dengan biaya operasi yang efisien.
“Harga minyak rendah memang menurunkan margin keuntungan perusahaan sektor hulu migas, namun mempertahankan kegiatan operasional hulu migas agar tetap berjalan merupakan upaya menjamin tetap berlangsungnya efek berganda (multiplier effects) pada keseluruhan bisnis proses migas bagi perekonomian nasional,” ungkapnya.
Menurut Benny, opsi menutup sumur bukanlan pilihan karena ada pertimbangan teknis reservoir. Meski begitu, KKKS tetap dituntut untuk terus melakukan upaya-upaya efisiensi.
Karena itu, tegasnya, diperlukan dukungan Pemerintah melalui Kementerian ESDM serta kementrian dan lembaga terkait berupa stimulus fiskal, untuk mendorong kegiatan dalam jangka pendek agar tetap dapat berlangsung. Dukungan stimulus fiskal tersebut bisa saja bersifat sementara, selama periode tertentu akibat dampak Covid-19 ini.
Selanjutnya dalam jangka menengah dan jangka panjang, IATMI menilai bahwa era Covid-19 ini harus dijadikan momentum bagi pemangku kepentingan di sektor hulu migas untuk lebih investor friendly, memangkas proses perizinan, koordinasi dan birokrasi yang selama ini berdampak terhadap ekonomi biaya tinggi. Perlunya meningkatkan daya saing investasi sektor hulu migas di tanah air menjadi semakin mendesak.
“Saat ini, semua negara-negara produsen minyak sedang menyiapkan skema/model bisnis migas baru dalam rangka memperbaiki daya saing negara tersebut,” ujar Benny.








Tinggalkan Balasan