, ,

Ini Usulan Kemitraan Strategis Indonesia-China untuk Energi Terbarukan

Posted by

Beijing, Petrominer – Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai peluang kemitraan strategis antara Indonesia dan China dalam pengembangan energi terbarukan adalah dalam membangun ekosistem teknologi energi surya. Karena itulah, IESR mengusulkan inisiatif bernama China-Indonesia Solar Partnership.

Menurut Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa, kemitraan ini sangat ideal bagi kedua negara, yang akan memanfaatkan penguasaan teknologi sel surya China dan potensi energi surya. Ini juga sesuai dengan kebutuhan Indonesia dalam membangun industri teknologi hijau sebagai motor pertumbuhan ekonomi, yang dapat menjadi komoditas industri andalan di masa depan.

“Kemitraan ini diharapkan menjadi bagian rencana kemitraan baru kedua negara dan dapat segera diresmikan pada tahun ini,” ungkap Fabby saat tampil pada High-Level Dialogue: Advancing Indonesia-China Cooperation on Clean Energy and Green Development di Beijing, Selasa (10/6).

Acara ini  diselenggarakan oleh IESR dan didukung oleh Kedutaan Besar Indonesia untuk China, BRI Green Development Coalition (BRIGC), World Resources Institute (WRI) China, dan Chinese Renewable Energy Industries Association (CREIA).

Dia memaparkan bahwa inisiatif ini terdiri dari produksi teknologi sel dan modul surya generasi terbaru, elektrifikasi kepulauan Indonesia dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan sistem penyimpanan energi (Battery Energy Storage System/BESS) untuk substitusi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), serta riset gabungan untuk pemanfaatan teknologi PLTS yang sesuai dengan iklim tropis.

Selain itu, inisiatif ini juga mendorong pembiayaan hijau untuk manufaktur dan rantai pasok PLTS serta pembangkit tenaga surya, kerja sama penurunan emisi karbon dan perdagangan karbon internasional dari nasıl penurunan emisi dari proyek PLTS skala besar.

“IESR percaya bahwa pemanfaatan potensi energi surya secara besar-besaran, dibarengi dengan penggunaan penyimpanan energi (energy storage) dan modernisasi jaringan listrik, merupakan jalur dekarbonisasi sektor kelistrikan yang paling cepat dan hemat biaya (cost-effective),” ungkap Fabby.

Dalam kesempatan itu, dia juga menekankan bahwa kerja sama strategis kedua negara harus diarahkan untuk mempercepat transisi energi, pengembangan ekonomi hijau dan mengatasi tantangan iklim global. Indonesia dan Cina sebagai negara ekonomi dan pengemisi terbesar di dunia, memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukan kepemimpinan negara-negara berkembang mengatasi ancaman perubahan iklim.

“Sebagai pemimpin global dalam pengembangan energi terbarukan, China dapat membantu Indonesia dalam hal investasi infrastruktur dan pembangunan industri teknologi energi terbarukan, pengembangan kapasitas kelembagaan, dan mendukung dekarbonisasi industri pengolahan mineral dan hilirisasi,” ujar Fabby.

Peluang Investasi

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Kepala Perwakilan RI di Beijing, Parulian Silalahi, mengatakan transisi energi ini bukan hanya untuk mengurangi emisi, tapi juga menciptakan banyak lapangan kerja baru dan peluang investasi. Beberapa investor asing sudah mulai berinvestasi di bidang ini. Misalnya, Trina Solar dari China dan SEG Solar dari Amerika Serikat yang sudah membangun pabrik panel surya di Jawa Tengah.

Menurut Parulian, China dengan kemampuan teknologi dan produksinya di bidang energi terbarukan, memiliki peluang besar. Bukan hanya sebagai pemasok suku cadang, tetapi juga untuk membangun rantai pasok terintegrasi di Indonesia.

“Hal ini akan mempercepat transisi energi, tidak hanya di Indonesia tapi juga di kawasan Asia Tenggara,” tegasnya.

Sementara Direktur Eksekutif BRI Green Development Institute, Zhang Jianyu, menyampaikan bahwa krisis iklim merupakan ancaman global, namun negara berkembang menanggung beban terberat. Dalam hal ini, Indonesia dan China dapat bersatu dalam kerja sama energi terbarukan untuk mitigasi krisis iklim, dan terbuka terhadap kolaborasi global tanpa pengecualian.

“Perusahaan-perusahaan China seperti JA Solar, Trina Solar dan Jinko Solar bisa memainkan peran penting dalam menyuplai panel surya dan keahlian teknis,” ujar Zhang Jianyu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *