Proses fabrikasi topside anjungan lepas pantai (rig) yang dipakai Natuna dalam proyek Pengembangan lapanngan Sedayu.

Jakarta, Petrominer – PT Saka Energi Indonesia (PGN SAKA) terus berkomitmen dalam mengembangkan proyek lapangan baru. Salah satunya pengembangan lapangan Sidayu yang berlokasi sekitar 7 km dari lapangan utama blok Pangkah PSC di Ujung Pangkah, Jawa Timur.

Sesuai dengan persetujuan Plan of Development (POD), pengembangan lapangan Sidayu terdiri dari pembangunan dua wellhead platforms (anjunga minyak lepas bantai, yaitu Well-Head Platform C (WHP C) dan Well-Head Platform D (WHP D), production pipeline dan gas lift pipeline.

Menurut Pjs Direktur Utama PGN SAKA, Susmono Soetrisno, kedua platform Sidayu ini didesign sendiri oleh Tim PGN SAKA. Mulai dari design struktur, platform detail, rekayasa, termasuk fasilitas di dalamnya.

“Design tersebut telah disesuaikan dengan kondisi dan kapasitas produksi di lapangan Sidayu, sehingga design ini dinilai paling optimum dan tepat dengan kondisi di lapangan,” jelas Susmono, Rabu (23/9).

Dia menegaskan bahwa komitmen efisiensi Capex dan Opex serta mempercayakan proyek migas ini ke sumber daya manusia domestik terbaik perusahaan merupakan bentuk nyata dalam mencari peluang dan menghadapi tantangan di era pandemi saat ini.

Hingga saat ini, perkembangan pekerjaan fabrikasi pembangunan kedua platform itu sudah mencapai progres 78 persen. Kedua platform tersebut rencananya akan di-sail away pada Nopember 2020, yang diikuti dengan instalasi platform dengan target selesai pada Desember 2020. Selanjutnya, akan dilakukan pengeboran tiga sumur, yaitu dua sumur re-entry dan satu sumur pengembangan baru.

Pengembangan proyek ini juga sebagai bentuk kontribusi anak perusahaan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) di bidang hulu migas ini dalam memenuhi pasokan energi untuk Indonesia di tengah pandemi Covid-19 dan tantangan harga minyak dunia. Semangat untuk berkontribusi ini melecut, PGN SAKA melakukan percepatan waktu pelaksanaan pekerjaan proyek dari 17 bulan menjadi 12 bulan, dengan target first oil lapangan Sidayu pada pertengahan tahun 2021.

Susmono mengungkapkan bahwa percepatan rencana penyelesaian proyek dilakukan dengan penyederhanaan terhadap design kedua platform tanpa mengurangi standar fungsional dan kualitas platfom tersebut. Dua platform ini juga cukup identik, sehingga dapat mempercepat dalam proses order material, equipment, fabrikasi dan sebagainya.

Proses review dan pekerjaan di lapangan juga dioptimalisasi agar bisa lebih cepat. PGN SAKA telah berkoordinasi dengan kontraktor dan EPC Contractor di lapangan. SDM Internal PGN SAKA berkolaborasi dengan berbagai stakeholder untuk mempercepat proses kontruksi secara intensif agar proses pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan komitmen dan target waktu yang telah ditetapkan oleh PGN SAKA. Adapun proses percepatan di lapangan, mulai dari review teknis, detail engineering, hingga proses fabrikasi.

Fabrikasi pembangunan platform atau anjungan lepas pantai ini dilaksanakan di Cilegon, Banten. Setelah fabrikasi platform selesai, proses selanjutnya adalah memindahkannya ke kapal tongkang (load out) dan diangkut menuju lokasi lapangan Sidayu. Pengangkutan platform dengan kapal tongkang inilah yang disebut dengan sail away. Setelah sampai di lapangan, akan dilakukan instalasi.

Heavy Lift

Susmono menjelaskan bahwa salah satu hal paling kritikal dalam proses instalasi adalah heavy lift, yakni saat pemasangan jacket platform dengan berat lebih dari 200 ton dan pemasangan topside platform dengan berat lebih dari 500 ton, yang memerlukan kapal pengangkat atau crane ship. Dengan segala tantangannya, PGN SAKA berkomitmen proses heavy lift ini akan selesai tepat waktu yakni Desember 2020.

Lapangan Sidayu diharapkan mampu menyumbang tambahan produksi minyak sekitar 7.000 BOPD dan 3,9 MMSCFD gas di Pangkah PSC. Rencananya, produksi dari lapangan Sidayu akan terhubung dengan fasilitas produksi yang ada melalui pipa bawah laut.

“Proyek lapangan Sidayu ditujukan untuk menunjang ketahahan energi domestik, khususnya di area Jawa Timur. Seperti yang diketahui, PGN SAKA memiliki kewajiban untuk menyuplai gas ke PJB Jawa Timur dalam volume optimum yang dihasilkan oleh lapangan-lapangan di Blok Pangkah,” ujar Direktur Utama PGN, Suko Hartono.

“PGN sebagai Sub Holding Gas dari PT Pertamina (Persero) akan terus menjadi bagian dari solusi nyata bagi bangsa untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah melalui eksplorasi migas dan pemanfaatan produk migas bagi kebutuhan daerah setempat, akan bermuara pada peningkatan perekonomian nasional sebagai tujuan akhir dari pengembangan kekayaan alam Indonesia,” tegas Suko.

Saat ini, PGN SAKA mengelola 10 blok migas di Indonesia dan satu blok Shale Gas di Amerika Serikat. Di Indonesia, PGN SAKA mengelola enam blok sebagai operator dengan kepemilikan 100 persen participating interest (PI), seperti di Pangkah, South Sesulu, Wokam II, Pekawai, West Yamdena dan Muriah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here