Jakarta, Petrominer – Pemerintah Jepang terus fokus pada upaya percepatan pengembangan energi terbarukan untuk mengisi kekosongan akibat bencana pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima. Namun program ini menghadapi beberapa tantangan, seperti kepemilikan jaringan listrik dan ketersediaan lahan.
Dalam Sixth Strategic Energy Plan, yang dirilis Oktober 2021, Jepang telah menaikan target pembangkit listrik energi terbarukan (termasuk tenaga air) dari sebelumnya 22-24 persen menjadi 36-38 persen pada tahun 2030. Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) memegang porsi cukup besar dibandingkan sumber energi lainnya, seperti angin (bayu), air dan biomasa.
“Sesuai tren saat ini, energi terbarukan akan mencapai porsi 34,6 persen dari bauran energy pembangkit listrik Jepang pada tahun 2030. Ini sudah mendekati target,” kata perusahaan data dan analitik terkemuka, GlobalData, Rabu (10/8).
Laporan terbarunya berjudul “Japan Power Market Size, Trends, Regulations, Competitive Landscape and Forecast, 2022-2035,” GlobalData mengungkapkan bahwa perluasan kapasitas energi terbarukan menghadapi beberapa tantangan khusus.
“Secara historis, proliferasi proyek pembangkit listrik energi terbarukan terhambat oleh sulitnya menghubungkan proyek-proyek tersebut ke jaringan listrik. Karena jaringan berada di tangan berbagai perusahaan utilitas lokal, sehingga biaya sambungan menjadi tinggi. Ini diperparah oleh fakta bahwa aturan untuk mendirikan proyek energi terbarukan tidak praktis, dan dibutuhkan tiga atau empat tahun untuk menghapus semua rintangan peraturan tersebut. Sangat sedikit pengembang yang memiliki dana atau kesabaran yang cukup untuk melihat proyek mereka melalui proses ini,” Analis Power GlobalData, Attaurrahman Ojindaram Saibasan.
Akibatnya, Pemerintah Jepang telah memutuskan untuk mengurangi masa tunggu persetujuan proyek pembangkit listrik energi terbarukan menjadi kurang dari dua tahun. Selain itu, pembentukan jaringan yang dioperasikan secara terpusat yang akhirnya memungkinkan proyek-proyek energi terbarukan didirikan lebih cepat, telah mendorong sektor ini untuk tumbuh menjadi bagian penting dari jaringan listrik Jepang. Pelaksanaan proses persetujuan untuk proyek-proyek energi terbarukan melalui lelang diharapkan akan mengubah sistem dan meningkatkan kecepatan beroperasinya proyek tersebut.

Saibasan menyimpulkan, tantangan lain yang dihadapi dalam ekspansi sektor energi terbarukan adalah kurangnya ruang. Upaya mengganti PLTU dengan energi terbarukan tidak akan mungkin dilakukan terutama karena Jepang harus menutupi hampir semua lahan yang dibebaskan dengan panel surya untuk sepenuhnya memberi pasokan listrik di negara tersebut.
“Pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) adalah pilihan, dan negara ini juga bereksperimen dengan PLTS terapung. Sumber daya ini mahal tetapi sekarang lebih ekonomis dengan adanya kemajuan teknologi. Sekali lagi, upaya Jepang untuk menerapkan sistem tender publik untuk menyetujui proyek pembangkit listrik energi terbarukan akan dapat memanfaatkan penurunan harga teknologi yang lebih baru,” paparnya.








Tinggalkan Balasan