Nusa Dua, Bali – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengembangkan lima inisiatif strategis untuk mendorong BUMN membangun portofolio dan ekosistem dalam rangka mendukung dekarbonisasi dan mencapai Net Zero Emissions (NZE) tahun 2060. Salah satu fokus utama Kementerian BUMN adalah mendorong BUMN agar tidak hanya memberikan nilai dan dampak positif bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga berinovasi dan mengubah model bisnisnya.
“Jadi kami melihat perubahan dekarbonisasi sebagai peluang bagi BUMN Indonesia. Karena kami melihat itu sebagai peluang untuk benar-benar meningkatkan ketahanan energi dan kemandirian energi kita,” ungkap Wakil Menteri BUMN I, Pahala N. Mansyuri, dalam Panel III SOE International Conference, Senin (17/10).
Dalam konferensi yang mengangkat tema “Energy Transition and Green Development for Sustainable Growth,” Pahala menyampaikan bahwa dalam jangka pendek perubahan akan mengalami percepatan sebagai dampak krisis Rusia-Ukraina. Namun Kementerian BUMN melihat pada tren jangka menengah, dengan menawarkan lima inisiatif utama.
Pertama, membentuk ekosistem pasar karbon antar BUMN untuk mempercepat agenda dekarbonisasi dan menetapkan role model bagi pembentukan pasar karbon nasional serta menjalankan Nature Base Solution (NBS). Kedua, mengembangkan kapasitas energi baru terbarukan (EBT), antara lain Geothermal, Biomassa, Biofuel, dan lainnya.
Ketiga, membangun ekosistem electric vehicle (EV) untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak, mengurangi impor dan subsidi bahan bakar. Keempat, mekanisme transisi energi melalui upaya mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga batubara. Dan kelima, mengembangkan klaster industri hijau.
Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa Pemerintah telah menetapkan Indonesia benar-benar dapat mencapai NZE pada tahun 2060 dan mengurangi emisi sekitar 32 persen pada sekitar tahun 2030. Untuk itu, BUMN harus mampu mengembangkan portofolio inisiatif, baik untuk masing-masing BUMN atau sebagai ekosistem BUMN atau BUMN bekerja sama dengan pihak lain untuk membantu mencapai National Determined Contribution (NDC).
“Di lingkungan Kementerian BUMN, sejak tahun lalu, kita sudah menetapkan bahwa setiap tahun harus memiliki KPI. Setidaknya telah ditetapkan apa yang akan menjadi target pengurangan emisi. Yang kedua apa yang harus dilakukan dan apa inisiatifnya untuk membangun peluang bisnis,” ungkap Pahala.
Dalam kesempatan yang sama, President Schlumberger Asia, Amy Chua, mengungkapkan bahwa perusahaan jasa migas yang dipimpinnya telah melakukan tiga pendekatan untuk dekarbonisasi, yakni mengurangi emisi sendiri, membantu klien/pelanggan dalam pengurangan emisi dan mulai berinvestasi dalam energi baru.
“Jadi saya pikir portofolio yang akan datang ini pada akhirnya akan menjadi bagian dari transisi energi kita,” ujar Amy Chua.
Meski begitu, menurutnya, regulasi pasti memainkan peran besar. Contohnya di Eropa, pada tahun 2005, ketika Komisi Uni Eropa menciptakan sistem transis, Eropa pun mengalami kemajuan cepat 15-17 tahun kemudian. Pengurangan emisi yang dilakukan sangat fenomenal karena emisinya berkurang hampir 43 persen dan melakukan penelurusan hingga 42,8 persen.
Karena itulah, Amy Chua menilai tanpa kebijakan yang jelas, pengurangan emisi akan memakan waktu lebih lama.
“Kolaborasi dan kemitraan juga menjadi penting. Tidak ada satu entitas pun yang dapat melakukannya sendiri. Kami terbiasa melakukan itu, jadi kami memiliki banyak kemitraan dan kolaborasi di seluruh dunia sekarang,” ujarnya.








Tinggalkan Balasan