Petugas memperlihatkan pelet kayu sebelum dicampurkan dengan batubara sebagai bahan bakar PLTU.

Jakarta, Petrominer – Beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) diketahui sudah mulai memanfaatkan biomassa sebagai substitusi (campuran) batubara. Metode co-firing tersebut memang terus didorong oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam upaya meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan.

“Ada dua bahan baku yang jadi campuran metode co-firing, yakni sampah dan limbah/hasil hutan berupa kayu, ini dicampurkan 1 hingga 5 persen. Kalau diakumulasikan potensinya cukup menjanjikan,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi, Kamis (27/2).

Menurut Agung, kedua bahan baku tersebut setelah diolah dalam bentuk pelet (pellet) bisa setara dengan batubara kalori rendah yang digunakan untuk bahan bakan pembangkit.

“Pemanfaatan pelet ini diharapkan dapat menurunkan penggunaan batubara. Selain itu, pemanfaatan sampah menjadi energi ini juga menjadi alternatif solusi penanganan sampah di daerah,” tegasnya.

Saat ini, menurut Agung, sampah sebagai bahan baku pelet memiliki volume sebesar 20.925 ton per hari yang terkonsentrasi di 15 tempat pengelolahan sampah kota, yakni DKI Jakarta (7.000 ton/hari), Kota Bekasi (1.500 ton/hari), Kabupaten Bekasi (450 ton/hari), Batam (760 ton/hari), Semarang (950 ton/hari), Surabaya (1.700 ton/hari) Kota Tangerang (1.200 ton/hari), Denpasar dan Badung (1.155 ton/hari).

Selanjutnya, ada Depok, Kota dan Kabupaten Bogor (1.500 ton/hari), Makasar (1.000 ton/hari), Bandung (1.630 ton/hari), Surakarta (550 ton/hari), Malang (800 ton/hari), Regional Jogja (440 ton/hari) dan Balikpapan (290 ton/hari).

“Nilai kalori pengelolahan sampah yang dihasilkan sekitar 2.900 – 3.400 Cal/gr,” ungkapnya.

Sementara untuk hasil hutan jenis kayu jika diekuivalensikan dengan besaran listrik yang dihasilkan, total potensi kayu untuk dijadikan jadi pelet kayu (wood pellet) sebesar 1.335 Mega Watt electrical (MWe). Potensi tersebut tersebar di Sumatera (1.212 MWe), Kalimantan (44 MWe), Jawa, Madura dan Bali (14 MWe), Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (19 MWe), Sulawesi (21 MWe), Maluku (4 MWe) dan Papua (21 MWe) dengan nilai kalori sebesar 3.300 – 4.400 Cal/gr.

Pencampuran pelet kayu dengan batubara untuk bahan bakar PLTU.

Sementara itu, PT PLN (Persero) yang menginisiasi metode co-firing menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan 1 persem co-firing di PLTU Indonesia, dibutuhkan biomassa sebanyak 17.470 ton per hari atau 5 juta ton wood pellet ton per tahun, atau ekuivalen dengan 738 ribu ton per tahun pellet sampah.

“Kalau melihat sumber jumlah sampah tadi terbilang cukup, tinggal manajemen pengelolaannya lagi yang ditingkatkan,” ujar Direktur Pengadaan Strategis 1 PLN, Sripeni Inten Cahyani.

Saat ini, menurut Sripeni, terdapat tiga tipe PLTU yakni, Pulverized Coal (PC), Circulating Fluidized Bed (CFB), dan STOKER. Untuk tipe PC, ada 43 unit dengan total kapasitas 15.620 MW. Total membutuhkan campuran 5 persen biomassa atau setara 10.207,20 ton per hari.

Tipe CFB, ada 38 unit dengan total kapasitas 2.435 MW dan membutuhkan 5 persen biomassa atau setara 2.175,60 ton per hari. Sementara tipe STOKER, ada 23 unit dengan kapasitas 220 MW dan menggunakan 100 persen biomassa atau setara 5.088 ton per hari.

PLN telah mengujicobakan co-firing. Salah satunya di PLTU Jeranjang, Nusa Tenggara Barat, melalui Indonesia Power. Sementara anak perusahaan PLN lainnya, Pembangkitan Jawa Bali (PJB), telah menguji co-firing di lima lokasi, yakni PLTU Paiton, PLTU Indramayu, PLTU Ketapang, PLTU Tenayan dan PLTU Rembang.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here